SILATURAHMI, JALAN CINTA DALAM ISLAM
Di tengah budaya populer yang memaknai cinta sebatas relasi romantis dan perayaan seperti Valentine’s Day, Islam memiliki konsep cinta yang lebih luas dan bermakna. Cinta tidak berhenti pada perasaan, tetapi diwujudkan melalui amal, akhlak, dan kepedulian sosial, salah satunya melalui silaturahmi yang bernilai ibadah.
Silaturahmi memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam sebagai sarana menumbuhkan kasih sayang dan kepedulian. Nilai rahmah ini juga tercermin dalam peran lembaga zakat yang menghubungkan mereka yang berkecukupan dengan yang membutuhkan.
Untuk menggali makna cinta dan silaturahmi dalam Islam serta relevansinya bagi generasi muda, Majalah PEDULI mewawancarai Habib Mochammad Ridho Bin Abdulloh Bin Syekh Abubakar. Berikut petikan wawancaranya.
Menurut Habib, apa yang menjadikan silaturahmi dalam Islam lebih bermakna dibandingkan perayaan Valentine’s Day?
Dalam Islam, setiap istilah dan amalan itu pasti memiliki dasar, baik dari al-Quran, hadits, ijma’, maupun qiyas. Sesuatu yang jelas sumbernya tentu memiliki keistimewaan.
Dalam hal ini, silaturahmi jelas lebih bermakna dibandingkan Valentine’s Day. Silaturahmi memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam, sementara Valentine’s Day bukan berasal dari tradisi Islam dan tidak mencerminkan nilai keislaman seorang Muslim. Dalam banyak hadits juga disebutkan bahwa silaturahmi adalah amalan istimewa yang bisa melapangkan rezeki, memanjangkan umur, dan menghapus dosa.
Hal ini juga ditegaskan melalui kisah yang disebutkan dalam hadits shahih riwayat Imam al-Bukhari dari Anas bin Malik. Diceritakan ada seorang pemuda Yahudi yang dijenguk Rasulullah ﷺ menjelang wafatnya. Pemuda tersebut tetap menjaga adab dan bakti kepada orang tuanya dengan meminta persetujuan ayahnya sebelum mengambil keputusan. Dari sikap bakti itulah Allahﷻ memberinya hidayah di akhir hayat. Ini menunjukkan bahwa silaturahmi, terutama kepada orang tua, memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam.
Bagaimana Islam memaknai cinta dan kasih sayang agar tidak hanya terbatas pada hubungan pasangan, tetapi juga tercermin dalam kehidupan sosial?
Dalam Islam, cinta dan kasih sayang tidak dibatasi pada hubungan suami-istri atau keluarga saja. Islam mengajarkan kasih sayang secara menyeluruh dan universal, yang dikenal dengan konsep rahmah. Hal ini tercermin dalam sejarah dakwah Islam, khususnya pada teladan Nabi Muhammad ﷺ yang diutus sebagai rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam.
Salah satu contoh nyata adalah kisah Tsumāmah bin Utsāl, seorang tokoh musyrik yang tertawan oleh kaum Muslimin. Saat ditawan, dia tidak diperlakukan dengan kekerasan, tidak diikat, dijaga kehormatannya, serta diberi makan yang layak. Bahkan dia ditempatkan di dekat Masjid Nabawi agar dapat menyaksikan langsung kehidupan kaum Muslimin.
Selama beberapa hari, Tsumamah melihat kedisiplinan shalat, akhlak para sahabat, serta sikap penuh kasih sayang Nabi ﷺ dan umat Islam. Akhirnya, setelah dibebaskan tanpa paksaan, dia kembali dengan kesadaran sendiri untuk memeluk Islam. Dari peristiwa ini terlihat bahwa kasih sayang dan akhlak mulia justru menjadi sarana dakwah yang paling kuat.
Lalu, bagaimana peran Lembaga Amil Zakat (LAZ) dalam menumbuhkan silaturahmi dan kepedulian sosial sebagai wujud kasih sayang yang bernilai ibadah?
Lembaga Amil Zakat memiliki peran penting dalam menerjemahkan nilai rahmah Islam ke dalam kehidupan sosial. LAZ bukan hanya mengelola dana zakat, infak, dan sedekah, tetapi juga menjadi penghubung silaturahmi antara orang-orang yang diberi kelapangan rezeki dengan mereka yang membutuhkan.
Melalui program bantuan sosial, pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi, LAZ menghadirkan kasih sayang Islam secara nyata dan terstruktur. Kepedulian ini bukan sekadar bantuan materi, tetapi juga menghadirkan rasa dihargai, diperhatikan, dan dimanusiakan.
Dengan demikian, aktivitas LAZ tidak hanya berdampak sosial, tetapi juga bernilai ibadah. Ia menjadi bentuk dakwah bil-hal, menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih, peduli, dan menghadirkan solusi bagi umat.
Apa pesan Habib kepada generasi muda agar tidak salah memahami makna cinta dan mampu mengekspresikannya secara Islami?
Pesan saya kepada generasi muda, jangan salah memahami makna cinta. Cinta itu tidak perlu dihapus atau ditekan, karena syahwat dan rasa cinta adalah sunnatullah. Yang terpenting adalah mengarahkannya.
Belajarlah dari generasi terdahulu tentang bagaimana mereka mencintai dan mengekspresikan cintanya. Jika cinta ingin diekspresikan, tanyakan satu hal: apakah ini bisa mendatangkan ridha Allah ﷻ atau tidak. Syahwat dan kesenangan masa muda tetap boleh ada, tetapi niatkan dan arahkan semuanya min ajli Allah, demi mencari ridha-Nya.
Dengan cara itu, cinta tidak menjerumuskan, justru menjadi ibadah dan mendekatkan diri kepada Allahﷻ. Wallahu a‘lam.


