GURU PAHLAWAN DENGAN JASA BESAR
Dalam ajaran Islam, guru memiliki kedudukan yang sangat mulia. Mereka bukan hanya sebagai penyampai ilmu, tetapi juga pembentuk karakter dan pilar peradaban. Guru adalah pahlawan yang berjuang setiap hari untuk mencetak generasi yang berilmu dan berakhlak mulia, meskipun sering menghadapi berbagai tantangan seperti keterbatasan fasilitas dan kesejahteraan.
Untuk memahami lebih dalam tentang makna sosok guru, tantangan yang mereka hadapi, serta bagaimana masyarakat dapat berperan aktif mendukung mereka, Majalah PEDULI berkesempatan mewawancarai Dr. Abdur Rofik Maulana, M.Pd., Kaprodi Magister PAI sekaligus Wakil Rektor IV Universitas Islam Raden Rahmat Malang. Berikut transkrip lengkapnya.
Apa makna sosok guru menurut Bapak, dan bagaimana peran guru dalam membentuk generasi yang berilmu dan berakhlak mulia?
Menurut saya, gelar "Pahlawan Guru" bukan sekadar metafora, tetapi pengakuan atas peran strategis dan pengorbanan luar biasa yang mereka lakukan. Guru adalah arsitek peradaban, dengan dua peran utama: mentransfer ilmu pengetahuan dan membentuk karakter serta akhlak mulia. Mereka berjuang melawan kebodohan, intoleransi, dan degradasi moral melalui ilmu, keteladanan, dan kasih sayang, meskipun sering dihadapkan pada keterbatasan sumber daya.
Guru juga merupakan teladan hidup (living model), karena karakter tidak cukup diajarkan lewat teori, tapi harus ditunjukkan dalam sikap dan tindakan. Karena itu, saya kurang sepakat dengan frasa "guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa". Ungkapan ini cenderung meromantisasi pengorbanan dan bisa menormalkan ketidakadilan. Guru adalah profesional yang layak mendapatkan kesejahteraan dan penghargaan yang setimpal. Selain itu, frasa ini dapat mengurangi minat generasi muda untuk menekuni profesi guru. Sebaiknya diganti menjadi: “Guru adalah pahlawan dengan jasa tak terhingga.”
Menurut Bapak tantangan apa saja yang saat ini dihadapi para guru, khususnya di daerah atau lembaga pendidikan kecil, dan bagaimana masyarakat bisa ikut berperan dalam membantu mereka?
Secara umum, tantangan guru di daerah dan lembaga pendidikan kecil bersifat multidimensi. Masalah utama adalah kesejahteraan, dengan pendapatan tidak pasti yang memaksa banyak guru mencari pekerjaan sampingan. Selain itu, keterbatasan infrastruktur seperti akses internet, teknologi, dan ruang kelas yang layak menghambat proses belajar. Beban administratif yang berlebihan serta minimnya akses pelatihan juga menjadi kendala serius. Di sisi lain, guru sering menghadapi tantangan sosial seperti rendahnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya pendidikan.
Masyarakat dapat membantu melalui kemitraan sekolah-orang tua, kontribusi sumber daya, dan advokasi serta apresiasi terhadap guru. Prinsip dasarnya, tantangan ini adalah tanggung jawab kolektif. Pemerintah memegang peran dalam kebijakan dan anggaran, namun masyarakat adalah penguat di tingkat akar rumput. Dengan kolaborasi semua pihak, kita bisa menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih adil dan bermartabat untuk mencetak generasi terbaik bangsa.
Bagaimana pandangan Bapak terhadap Program Peduli Pendidikan yang dijalankan oleh LAZ Sidogiri? Sejauh mana program ini membantu guru-guru dan siswa yang membutuhkan?
Pandangan saya terhadap Program Peduli Pendidikan oleh LAZ Sidogiri sangat positif dan konstruktif. Program ini adalah wujud nyata peran lembaga filantropi Islam dalam memperkuat pendidikan nasional, khususnya dalam konteks keindonesiaan. Sidogiri sendiri merupakan contoh ideal dalam pengelolaan pendidikan, ekonomi, bisnis, dan filantropi Islam.
Keunggulan program ini terletak pada pendekatannya yang berbasis komunitas, mengintegrasikan nilai IMTAK dan IPTEKS, serta fokus pada pemberdayaan, bukan sekadar bantuan. Artinya, bantuan yang diberikan bersifat produktif dan berkelanjutan.
Program ini terbukti membantu siswa dan guru yang membutuhkan, mengurangi angka putus sekolah, serta membuka akses pendidikan yang lebih merata. Dalam hal ini, LAZ Sidogiri menjadi mitra penting pemerintah dalam membangun kualitas pendidikan dan keadilan sosial.
Apa pesan Bapak kepada masyarakat agar semakin peduli terhadap dunia pendidikan dan mau mendukung para guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa?
Kita perlu mengubah paradigma. Gelar "pahlawan tanpa tanda jasa" bukan alasan untuk membiarkan guru berjuang sendiri, tapi pengingat bahwa jasa mereka sangat berharga. Apresiasi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Masyarakat bisa mulai dari hal sederhana: orang tua aktif di sekolah, profesional berbagi keahlian atau bantu sarana pendidikan. Ini bentuk investasi sosial yang berdampak langsung.
Lebih luas, kepedulian terhadap pendidikan harus jadi gerakan budaya. Kita semua punya peran untuk menyuarakan kesejahteraan guru dan pemerataan pendidikan. Mendukung guru berarti menjaga masa depan bangsa.
Saya ingin menutup kalimat ini dengan sebuah ungkapan sederhana “Jika kita berencana untuk satu tahun, maka tanamlah padi; jika kita berencana untuk satu dekade, maka tanamlah pohon; namun jika kita berencana untuk seumur hidup, maka didiklah manusianya”.


