MENUMBUHKAN CINTA LINGKUNGAN DARI DALAM KELUARGA
Dalam Islam, mendidik anak bukan sekadar mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga menanamkan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu akhlak penting yang sering luput adalah kepedulian terhadap lingkungan. Padahal, Nabi Muhammad ﷺ telah memberi teladan yang sangat jelas tentang bagaimana manusia seharusnya memperlakukan alam.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa menghidupkan tanah yang mati, maka baginya pahala. Dan apa yang dimakan oleh manusia atau binatang darinya, maka itu bernilai sedekah” (HR. an-Nasā’i, Ibnu Ḥibbān, dan Ahmad). Hadis ini mengajarkan bahwa merawat lingkungan bukan hanya urusan dunia, tetapi juga investasi akhirat.
Nabi ﷺ melarang perbuatan yang merusak alam, seperti mencemari air, jalan, dan tempat umum. Bahkan dalam urusan berwudhu, beliau menegur sahabat yang menggunakan air secara berlebihan, meski air tersedia melimpah. Pesannya sederhana: hidup hemat dan bertanggung jawab adalah bagian dari iman. Rasulullah juga menganjurkan menanam pohon, menjaga kebersihan, serta menyingkirkan bahaya dari jalan sebagai amal kebaikan.
Nilai-nilai luhur ini dapat ditanamkan kepada anak sejak dini. Masa kanak-kanak adalah fase emas pembentukan karakter. Orangtua dapat memulainya dengan mengajak anak bermain di alam—berjalan di taman, berkebun, atau sekadar mengamati tumbuhan dan hewan. Dari kedekatan ini, anak belajar bahwa alam adalah ciptaan Allah yang harus dijaga, bukan dirusak.
Di rumah, orangtua bisa menanamkan kebiasaan kecil namun bermakna: mematikan lampu saat tidak digunakan, menghemat air, menutup tempat-tempat makanan, dan membuang sampah pada tempatnya. Lebih dari sekadar nasihat, anak membutuhkan teladan. Ketika ayah dan ibu menjaga kebersihan dan bersikap ramah lingkungan, anak akan menirunya secara alami.
(Jeki/Peduli)


