NILAI SOSIAL DALAM QURBAN SANGAT MENDALAM
Qurban merupakan salah satu ibadah yang memiliki makna spiritual sekaligus sosial yang sangat mendalam. Qurban tidak hanya menjadi bentuk ketaatan dan ketundukan seorang hamba kepada Allah, tetapi juga menjadi sarana untuk menumbuhkan kepedulian dan solidaritas terhadap sesama manusia.
Dalam konteks kemanusiaan, Qurban memiliki peran penting sebagai jembatan kepedulian antara yang mampu dan yang membutuhkan. Dalam perspektif filantropi Islam, Qurban memiliki makna yang sangat luas. Qurban menjadi bagian dari praktik kedermawanan dalam Islam yang mendorong umat untuk memperkuat solidaritas sosial, mengurangi kesenjangan, dan menebarkan manfaat bagi masyarakat.
Nilai-nilai filantropi seperti kepedulian, empati, dan semangat berbagi tercermin dalam distribusi daging qurban kepada masyarakat, khususnya kaum dhuafa dan mereka yang jarang merasakan nikmatnya daging. Berikut petikan reporter Majalah PEDULI, Samuel Gibran, bersama seorang sosiolog Muslim, Prof. Dr. H. M. Hasan Baharun.
Secara konseptual, apa makna Qurban dalam Islam?
Qurban berasal dari akar kata: qaruba - yaqrubu - qurban. Secara morfologis, qurban adalah bentuk masdar atau isim yang menunjukkan: segala sesuatu yang dijadikan sarana untuk mendekatkan diri. Secara konseptual agama adalah korban (udhiyah) untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ karena mengikuti perintah-Nya.
Bagaimana dimensi kemanusiaan dalam ibadah Qurban?
Dimensi kemanusiaan qurban tidak berhenti pada aspek ritual (ta'abbudi) saja. Namun memiliki makna sosial humanistik yang kuat.
Apakah Qurban dapat dipandang sebagai instrumen filantropi Islam?
Dalam rangka filantropi Islam, qurban termasuk dalan kategori infaq tathawwu'i. Ia berbeda dari zakat yg bersifat wajib dan terstruktur.
Bagaimana relevansi Qurban dalam konteks kemanusiaan modern?
Relevansi qurban dalam konteks kemanusiaan adalah membangun solidaritas sosial dan keadilan pangan. Secara sosiologis qurban membentuk instrumen filantropi Islam.
Apa pesan utama tentang semangat kemanusiaan dalam Qurban?
Pesan utama adalah qurban itu mengajarkan iman sejati yang nenuntut ketaatan penuh. Bukankah dalam iftitah shalat kita berjanji: bahwa "shalatku dan pengorbananku, hidupku dan matiku hanya semata untuk Allah"? Dalam qurban (udhiyah) Allah tidak butuh daging dan darah hewan sembelihannya. Tetapi hanya menerima ketaatan hamba untuk mencapai takwa itu seperti termaktub didalam al-Quran surat Al-Hajj 37 itu.


