IMAM AHMAD BIN HANBAL BERQURBAN DARI HARTA YANG PALING DICINTAI

Apr 25, 2026 - 11:26
 0  4
IMAM AHMAD BIN HANBAL BERQURBAN DARI HARTA YANG PALING DICINTAI

Pagi itu, pasar hewan di Baghdad riuh oleh suara pedagang yang menawarkan kambing dan domba terbaik mereka. Di antara keramaian itu, berdiri seorang lelaki bersorban sederhana, wajahnya teduh, langkahnya tenang. Dialah Imam Ahmad bin Hanbal, ulama besar yang namanya harum karena ilmu dan keteguhannya.

Beliau tidak datang sekadar untuk membeli hewan qurban. Ia datang membawa niat yang jauh lebih dalam. Satu per satu kambing diperhatikannya. Ia memeriksa kesehatan, memastikan tak ada cacat, menimbang umur dan kekuatannya. Baginya, qurban bukan sekadar sah menurut fikih, melainkan persembahan cinta kepada Allah ﷻ.

Seorang kenalan mendekat dan berkata, “Wahai Abu Abdillah, bukankah yang biasa saja sudah mencukupi?” Imam Ahmad tersenyum lembut. “Benar, yang sah telah mencukupi. Tetapi aku ingin mempersembahkan yang terbaik untuk Rabb-ku.”

Ucapan itu bukan lahir dari kelapangan harta, melainkan dari kelapangan jiwa. Ketika rezekinya lapang, beliau memilih hewan yang lebih baik, bahkan menambah jumlah qurbannya. Namun saat keadaan sempit, ia tetap berusaha berqurban, meski harus menyisihkan sedikit demi sedikit dari kebutuhannya. Baginya, pengorbanan terasa justru ketika ada sesuatu yang benar-benar dilepaskan dari kecintaan dunia.

Beliau sering menasihati murid-muridnya, “Jika engkau mampu membeli yang lebih baik, maka ambillah yang lebih baik. Karena itu untuk Allah ﷻ.” Nasihat sederhana, tetapi sarat makna: ibadah bukan soal minimalitas, melainkan ihsan—melakukan yang terbaik semampunya.

Imam Ahmad memahami firman Allah dalam QS. Al-Hajj: 37: yang sampai kepada-Nya bukanlah daging dan darah, tetapi ketakwaan dan besarnya pengorbanan yang dipesembahkan untuk Allah ﷻ.

~ Sumber: Manaqib al-Imām Aḥmad ibn Ḥanbal, karya  Abū al-Faraj ‘Abd al-Raḥmān ibn ‘Alī Ibn al-Jawzī. Maktabat al-Khānjī Mesir, 1930.

Jeki/Peduli

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow

Zainuddin Muslih, S.Pd verified-symbol "Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis." ― Abu Hamid Al-Ghazali