TAKWA SEJATI: MENJAUHI YANG HARAM ATAU SYUBHAT

Feb 22, 2026 - 12:13
Feb 21, 2026 - 10:43
 0  103
TAKWA SEJATI: MENJAUHI YANG HARAM ATAU SYUBHAT

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

مَن اشتَرى ثَوبًا بعَشَرةِ دَراهِمَ وفيهِ دِرهَمٌ حَرامٌ لَم تُقبَل لَهُ صَلاةٌ ما دامَ عليَهِ

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang membeli sebuah baju dengan harga sepuluh dirham, sedangkan di dalamnya ada satu dirham dari barang haram, maka Allah tidak akan menerima darinya satu shalatpun selama di dalamnya masih ada bagian yang haram.”

***

Al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad sangat mewanti-wanti agar menjauhi perkarta yang haram ataupun yang syubhat. “Hendaknya engkau menjauhi barang haram dan syubhat. Karena sifat wara’ adalah tiang sendi agama, dan menjadi dasar utama para ulama al-‘amilin.”  

Baginda Rasulullah ﷺ bersabda:

 “Barangsiapa yang menjauhkan dirinya dari perkara syubhat, berarti ia telah membersihkan diri untuk agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang jatuh dalam perkara syubhat, maka ia telah jatuh dalam perkara haram.”

Dalam penjelasan Imam al-Haddad, bahwa orang yang mengkonsumsi makanan haram dan syubhat jarang sekali diberi kesempatan untuk beramal shaleh. Andaikan saja ia diberi taufik secara dzahir untuk beramal shaleh, maka pasti disertai dengan berbagai cacat batin yang merusaknya seperti ujub dan riya’. Jadi, dalam keadaan apapun orang yang memakan barang haram amalannya tertolak karena Allah Subhanahu wa Ta’ala itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.

Gambarannya adalah amal perbuatan itu tidak Nampak wujudnya, kecuali dengan gerakan tubuh. Sedangkan gerakan anggota tubuh tidak dapat nampak kecuali dengan kekuatan yang bersumber dari makanan. Maka jika makanan itu buruk, maka dapat dipastikan kekuatan dan gerakan yang timbul darinya sama buruknya.

Dalam pemahaman hadis di atas, bahwa shalat seorang hamba tidak akan diterima, Jika terdapat sepersepuluh dari harganya berasal dari haram, lalu bagaimana apabila seluruhnya berasal dari haram. Dan bagaimana dengan makanan yang masuk kedalam urat yang mengalir ke seluruh tubuh. Maka pesan Baginda Nabu Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam: “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukan untuk menuju sesuatu yang tidak meragukan”. 

Seorang hamba tidak akan mencapai takwa yang sejati, hingga ia meninggalkan yang halal karena khawatir akan terjerumus pada perkara syubhat atau haram.

~ Sumber: Pengajian Kitab An-Nashâih ad-Dîniyyah wal-Washâyâ al-Imâniyyah karya al-Imam al-Arif Billah Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Haddad al-Hadrami asy-Syafii

(Jeki/Peduli)

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow

Zainuddin Muslih, S.Pd verified-symbol "Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis." ― Abu Hamid Al-Ghazali