TELADAN ABU DARDA DALAM MENANAM KEBAIKAN YANG TAK TERPUTUS
Kisah sahabat Nabi ﷺ, Abu Darda, menghadirkan pelajaran mendalam tentang makna kebermanfaatan dalam Islam. Dalam sebuah riwayat yang dikutip oleh Abu Abbas ath-Thibi dari Abu Muhammad al-Baghawi, diceritakan: Di suatu hari yang tenang, tampak seorang sahabat Nabi ﷺ, Abu Darda, tengah sibuk menanam pohon. Usianya telah lanjut, rambutnya memutih, namun tangannya tetap tekun menggenggam cangkul. Ia menanam dengan penuh kesungguhan, seakan waktu masih panjang di hadapannya.
Seorang lelaki yang melintas berhenti, memandang dengan heran. Baginya, apa yang dilakukan Abu Darda terasa sia-sia. “Mengapa engkau menanam pohon di usia setua ini?” tanyanya. “Bukankah pohon ini baru akan berbuah bertahun-tahun lagi?”
Abu Darda menoleh, tersenyum tenang. Dengan suara lembut ia menjawab, “Apa salahnya? Aku tetap mendapatkan pahalanya, meskipun orang lain yang akan memakan buahnya.”
Jawaban itu sederhana, namun sarat makna. Di balik tanah yang ia gali dan bibit yang ia tanam, tersimpan keyakinan tentang amal yang tak pernah sia-sia. Ia tidak menanam untuk dirinya semata, melainkan untuk siapa saja yang kelak merasakan manfaatnya.
Kisah ini diriwayatkan oleh Imam al-Munawi dalam Faidhul Qadir. Semangatnya sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, bahwa setiap tanaman yang dimakan manusia, burung, atau hewan akan menjadi sedekah bagi penanamnya.
Betapa indah ajaran ini. Menanam bukan sekadar pekerjaan dunia, melainkan tabungan akhirat. Satu pohon bisa menjadi sumber kebaikan yang tak terputus, bahkan setelah penanamnya tiada.
Dari Abu Darda kita belajar, bahwa kebaikan tak harus segera kembali kepada diri. Cukuplah Allah yang mencatatnya. Dan selama manfaat itu terus hidup, selama itu pula pahala mengalir tanpa henti.
~Sumber: Faidhul Qadir karya Imam al-Munawi,5/582, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2018
Jeki/Peduli


