MENCINTAI NEGERI, MENTAATI ILAHI

Agu 2, 2026 - 12:31
 0  3
MENCINTAI NEGERI, MENTAATI ILAHI

Rasa cinta memiliki kekuatan yang mampu menggerakkan seseorang untuk berkorban, menjaga, dan mengabdi. Begitu pula cinta kepada Rasulullah ﷺ dan cinta kepada tanah air. Keduanya tumbuh dari hati yang dipenuhi keimanan, lalu diwujudkan melalui amal dan kepedulian. Dalam peringatan Maulid Nabi dan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, umat Islam diajak untuk tidak sekadar merayakan, tetapi juga merenungkan makna syukur, persatuan, dan keteladanan Rasulullah ﷺ sebagai pedoman dalam mencintai agama sekaligus negeri tempat berpijak. 

Berikut petikan wawanaca reporter Majalah PEDULI, Samuel Gibran, bersama Gus Anwar Muhammad, Pengasuh PP Hidayatul Mubtadiin, Pacarkeling, Pasuruan.

Apakah cinta tanah air diteladankan oleh Rasulullah ﷺ?

Pada hakikatnya, Rasulullah ﷺ mengajarkan cinta kepada segala sesuatu yang bernilai kebaikan. Namun, kecintaan tersebut selalu ditempatkan dalam bingkai ketaatan kepada Allah ﷻ.

Salah satu bukti nyata kecintaan Rasulullah ﷺ kepada tanah air tampak ketika beliau harus meninggalkan Makkah menuju Madinah. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa beliau bersabda, "Seandainya aku tidak diperintahkan keluar darimu, niscaya aku tidak akan meninggalkanmu." Ungkapan tersebut menunjukkan betapa besar cinta Rasulullah ﷺ kepada Makkah sebagai tanah kelahiran beliau.

Hijrah yang dilakukan Rasulullah  ﷺ bukan karena keinginan pribadi untuk meninggalkan kampung halaman, melainkan semata-mata karena menjalankan perintah Allah ﷻ. Hal ini menjadi teladan bahwa mencintai tanah air adalah fitrah manusia, tetapi kecintaan tersebut tetap harus berada di bawah ketaatan kepada Allah ﷻ.

Bagaimana bentuk nyata cinta Rasul dan cinta tanah air dalam kehidupan modern?

Wujud cinta kepada Rasulullah ﷺ yang paling sempurna adalah dengan mengikuti ajaran dan jejak hidup beliau (ittiba'). Namun, para ulama juga menjelaskan bahwa seseorang tetap dapat memiliki cinta kepada Rasulullah ﷺ meskipun belum mampu meneladani seluruh sunnah beliau secara sempurna.

Hal ini didasarkan pada kisah seorang Arab Badui yang bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang hari kiamat. Ketika Rasulullah bertanya, "Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?" orang tersebut menjawab bahwa ia tidak memiliki banyak amal, tetapi ia mencintai Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah kemudian bersabda:

"Al-mar'u ma'a man ahabba" (Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya).

Hadis tersebut menunjukkan bahwa rasa cinta memiliki nilai yang sangat besar. Walaupun demikian, tentu akan lebih sempurna apabila cinta tersebut diwujudkan dengan mengikuti ajaran Rasulullah ﷺ.

Demikian pula dengan cinta tanah air. Hakikat cinta tanah air bukan sekadar slogan atau ucapan, melainkan harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Tidak sedikit orang yang mengaku mencintai negeri ini, tetapi justru melakukan hal-hal yang merugikan bangsa.

Sebaliknya, setiap orang dapat menunjukkan cinta tanah air melalui tindakan sederhana, seperti menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, menaati aturan, serta memberikan manfaat bagi masyarakat sesuai profesinya.

Bagi para santri, menuntut ilmu—terutama ilmu-ilmu yang berstatus fardu kifayah—juga merupakan bentuk nyata cinta tanah air. Sebab, apabila tidak ada generasi yang mempelajari ilmu tersebut, maka masyarakat akan kehilangan orang-orang yang mampu memenuhi kebutuhan umat dalam berbagai bidang kehidupan.

Apakah perayaan HUT Kemerdekaan RI yang berkembang di masyarakat sudah sesuai dengan ajaran Islam?

Bentuk perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia sangat beragam di setiap daerah. Pada dasarnya, selama kegiatan tersebut tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan syariat, maka tidak menjadi persoalan. Bahkan, peringatan kemerdekaan dapat menjadi bentuk rasa syukur atas nikmat kemerdekaan dan berbagai karunia yang Allah ﷻ anugerahkan kepada bangsa Indonesia. Namun demikian, rasa syukur hendaknya diwujudkan dengan kegiatan-kegiatan yang semakin mendekatkan diri kepada Allah ﷻ, bukan sebaliknya.

Apa pesan Gus bagi masyarakat dalam momentum Maulid Nabi dan HUT Kemerdekaan RI?

Momentum Maulid Nabi dan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia hendaknya menjadi sarana memperkuat kesadaran umat untuk mengisi setiap peringatan dengan nilai-nilai yang selaras dengan ajaran Islam. Budaya dan tradisi yang berkembang di masyarakat boleh dilestarikan selama tidak bertentangan dengan syariat. Sebaliknya, apabila suatu tradisi mengandung unsur yang dilarang agama, maka sudah semestinya ditinggalkan.

Dengan demikian, baik peringatan Maulid Nabi maupun HUT Kemerdekaan RI tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menjadi momentum untuk meningkatkan rasa syukur kepada Allah ﷻ, memperkuat kecintaan kepada Rasulullah ﷺ menumbuhkan kepedulian terhadap bangsa, serta memperbanyak amal saleh yang membawa manfaat bagi agama, negara, dan masyarakat.

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow

Zainuddin Muslih, S.Pd verified-symbol "Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis." ― Abu Hamid Al-Ghazali