MERAWAT DAMAI, MENJAGA KEMANUSIAAN
Kemajuan teknologi membuat dunia semakin terhubung, tetapi konflik, polarisasi, dan krisis kemanusiaan masih terus terjadi. Media sosial yang seharusnya mendekatkan manusia terkadang justru memperuncing perbedaan akibat derasnya informasi, lemahnya tabayyun, dan kecenderungan melihat persoalan secara hitam-putih.
Di tengah kondisi tersebut, umat Islam dituntut untuk bersikap kritis, bijak dalam berkomunikasi, serta mampu mengubah kepedulian menjadi aksi nyata. Wawancara ini mengajak kita melihat bagaimana nilai-nilai Islam dapat menjadi pijakan dalam merawat perdamaian dan kemanusiaan di era digital.
Berikut petikan wawanaca reporter Majalah PEDULI, Samuel Gibran bersama Dr. Akmal Sjafril, ST., M. Pd.I., seorang aktivis dan pemerhati isu-isu pemikiran Islam.
Di tengah dunia yang semakin mudah terhubung, mengapa konflik dan perpecahan justru masih sering terjadi? Menurut Bapak, apa akar persoalan yang perlu dibenahi?
Memang betul dunia sekarang makin mudah terhubung, namun ada kerumitan tersendiri. Jika dulu manusia banyak berkomunikasi secara langsung, sekarang media sosial banyak digunakan sebagai sarana komunikasi. Media sosial berdampak buruk dalam pola komunikasi kita, setidaknya karena dua hal. Pertama, karena sekarang kita kerap berkomentar kepada orang atau akun yang tidak kita kenal, sehingga kita merasa tidak ada konsekuensi dari ucapan kita. Umumnya orang akan lebih menjaga ucapannya jika berbicara langsung dengan orang lain, atau sambil bertatap muka. Kedua, media sosial juga menciptakan ‘filter bubble’, sehingga kita sering menemukan konten yang sesuai dengan yang biasa kita cari. Alhasil, kita mengalami semacam ‘ilusi’ seolah-olah kebanyakan orang itu sependapat dengan kita. Akibatnya, kita terbiasa memiliki ‘strong opinion’ terhadap segala hal, seolah-olah segalanya harus disikapi secara hitam-putih. Kalau pola komunikasinya seperti itu, maka tak heran sekarang ini semakin banyak konflik, apalagi di dunia maya.
Sering kali kita merasa prihatin terhadap krisis kemanusiaan, tetapi berhenti pada rasa simpati. Bagaimana cara mengubah kepedulian menjadi aksi nyata yang berdampak bagi sesama?
Secara tidak langsung ini juga problem yang ditimbulkan oleh dunia maya dan media sosial. Media sosial mendorong kita untuk lebih banyak mengkonsumsi informasi, bukan lebih mendalam. Akibatnya, kita senantiasa merasa ‘kehausan informasi’, seolah-olah kita harus tahu tentang segala hal. Karena ingin tahu segala hal, maka pada akhirnya tak banyak yang didalami. Konten-konten yang menggambarkan genosida di Gaza cuma membuat kita mengelus dada, dan kita dibuat merasa telah berbuat banyak hanya dengan memberikan sedikit komentar untuk membela Palestina. Padahal saudara-saudara kita di Palestina butuh bantuan yang lebih konkret daripada sekadar kata-kata. Saya selalu menyarankan, terutama kepada anak-anak muda, agar tidak sampai ‘tenggelam’ di dunia maya. Memanfaatkan dunia maya tentu boleh-boleh saja, tapi jangan sampai hidup kita sepenuhnya di dunia maya, padahal semestinya kita bekerja di dunia nyata.
Di era media sosial, informasi tentang konflik begitu cepat menyebar dan sering memicu polarisasi. Bagaimana seharusnya umat Islam bersikap agar tetap menjadi pembawa kedamaian ?
Gejala ini saya lihat jelas sekali ketika muncul isu Rohingya menjelang Pemilu 2024 silam. Tiba-tiba saja ada begitu banyak konten yang mendiskreditkan orang-orang Rohingya, dan sangat sedikit yang mau berpikir kritis, apalagi melakukan tabayun. Memang pada akhirnya persoalan ini adalah cerminan dari dua hal tadi, yaitu lemahnya kemampuan berpikir kritis dan keengganan dalam tabayun. Jadi dua hal itulah yang mesti diperbaiki.


