MENUMBUHKAN CINTA RASUL SEJAK DINI, BEKAL TERINDAH UNTUK ANAK
Di tengah derasnya arus informasi dan banyaknya figur yang dijadikan idola, orang tua memiliki peran penting menghadirkan Rasulullah ﷺ sebagai teladan utama dalam kehidupan anak. Meski terpisah lebih dari 14 abad, cinta kepada Nabi tidak akan pernah pudar jika ditanamkan melalui pendidikan yang penuh keteladanan.
Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah membiasakan anak mengenal dan mengamalkan sunnah Rasulullah ﷺ dalam aktivitas sehari-hari, seperti mengucapkan salam, makan dengan adab yang baik, berkata jujur, dan menghormati sesama. Anak akan lebih mudah mencintai Nabi ketika merasakan bahwa sunnah beliau hadir dalam kesehariannya.
Selanjutnya, luangkan waktu untuk membacakan kisah Sirah Nabawiyah. Cerita tentang kejujuran, kasih sayang, kesabaran, dan perjuangan Rasulullah ﷺ akan membentuk karakter anak sekaligus memperkuat kecintaannya kepada Islam. Kisah yang disampaikan dengan bahasa sederhana akan lebih mudah membekas di hati mereka.
Orang tua juga perlu membiasakan anak membaca shalawat. Shalawat bukan sekadar bacaan, tetapi doa yang menghubungkan hati seorang mukmin dengan Rasulullah ﷺ. Kebiasaan ini dapat dilakukan setelah shalat, saat bepergian, atau menjelang tidur sehingga menjadi amalan yang melekat sejak kecil.
Tak kalah penting, anak belajar dari apa yang mereka lihat. Karena itu, akhlak mulia Rasulullah ﷺ hendaknya terlebih dahulu tercermin dalam diri orang tua. Sikap lembut, penyayang, amanah, dan pemaaf akan menjadi pelajaran yang jauh lebih bermakna daripada sekadar nasihat.
Mendidik anak mencintai Rasulullah ﷺ juga berarti menumbuhkan kepedulian terhadap agama. Dorong mereka gemar belajar, mencintai al-Qur'an, serta menghormati dan menghadiri majlis ulama dan habaib. Dengan demikian, kecintaan kepada Rasul ini tidak berhenti pada lisan, tetapi tumbuh menjadi karakter yang mengantarkan anak menjadi generasi saleh, berakhlak mulia, dan siap melanjutkan perjuangan Islam di masa depan.
(Jeki/Peduli)


