KETIKA KHALIFAH UMAR BIN KHATTAB MENGAJARKAN TOLERANSI DI TANAH PALESTINA

Sep 12, 2026 - 13:14
 0  2
KETIKA KHALIFAH UMAR BIN KHATTAB MENGAJARKAN TOLERANSI DI TANAH PALESTINA

Penaklukan Palestina pada masa Khalifah Umar bin Khattab ra. bukan sekadar kemenangan politik, tetapi juga menjadi teladan tentang keadilan dan toleransi. Menurut Imam as-Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa, Umar dikenal sebagai sahabat Rasulullah ﷺ yang tegas, adil, cerdas, dan memiliki integritas tinggi. Karakter inilah yang mewarnai kebijakannya ketika Yerusalem (Iliya) berada di bawah pemerintahan Islam pada tahun 15 H/636 M.

Dalam Tarikh Ibnu Khaldun (Jilid II, hlm. 225) diceritakan, saat waktu Ashar tiba Umar berada di dalam sebuah gereja. Uskup setempat mempersilahkannya melaksanakan shalat di dalam gereja, tetapi Umar memilih shalat di tangga luar. Seusai shalat, ia menjelaskan bahwa jika dirinya shalat di dalam gereja, dikhawatirkan generasi Muslim setelahnya akan menjadikan hal itu sebagai alasan untuk mengubah gereja menjadi masjid. Sikap ini menunjukkan penghormatan Umar terhadap hak umat Kristen atas tempat ibadah mereka.

Semangat tersebut kemudian ditegaskan melalui Perjanjian Eliya (Mu'ahadah Iliya). Dalam al-Khulafa ar-Rasyidin karya Abdul Wahab an-Najjar (hlm. 151), disebutkan bahwa Umar memberikan jaminan keamanan bagi jiwa, harta, gereja, salib, serta kebebasan beragama penduduk Yerusalem. Gereja tidak boleh dirampas, dihancurkan, atau dialihfungsikan, dan tidak seorang pun dipaksa memeluk Islam.

Kisah Umar bin Khattab ini menunjukkan bahwa toleransi dalam Islam adalah menjaga hak, martabat, dan kebebasan setiap manusia. Warisan kepemimpinannya di Palestina menjadi bukti bahwa kekuasaan yang berlandaskan keadilan akan melahirkan perdamaian yang bertahan lintas zaman.

~ Sumber: Imam Jalaluddin as-Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, hlm. 95, Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, Jilid II, hlm. 225. Dll.

(JK/Peduli)

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow

Zainuddin Muslih, S.Pd verified-symbol "Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis." ― Abu Hamid Al-Ghazali