TELADAN RASULULLAH DALAM FATHU MAKKAH
Mengenai hal ini, Allah SWT berfirman, &doublequote;Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata&doublequote; (al-Fath: 1).
Dalam peristiwa ini pula Rasulullah menunjukkan keteladanannya yang paripurna. Figur pemimpin yang pemaaf, meskipun dalam posisi kejayaan dan kemenangan.
Di hulu kota Mekah itu, Nabi Muhammad SAW tengadah. Memikirkan bagaimana memasuki kota itu tanpa ada setetes darah tertumpah.
Dengan segala kerendahan hati, dengan air mata di pipi, tanda syukur pada Ilahi, beliau memasuki kota suci. Setelah mandi pagi di rumah sepupunya, Ummu Hani, delapan rakaat salat dhuha pun beliau jalani.
Lalu, beliau menuju Kakbah, bertawaf tujuh kali. Selesai tawaf, dibukanya pintu Kakbah dan dicampakkannya gambar para malaikat dan nabi-nabi, dihancurkannya berhala-berhala di sekelilingnya.
Beliau berseru, &singlequote;&singlequote;Dan katakanlah: &singlequote;Yang benar itu sudah datang, dan yang palsu segera hilang, sebab kepalsuan itu pasti lenyap.&singlequote;&doublequote; (QS. 17: 81).
Berdiri di pintu Kakbah, di hadapan kaum Quraisy, beliau membacakan ayat ke-13 dari surah al-Hujurat: &doublequote;Hai manusia, sungguh Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikanmu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.&doublequote;
Beliau lalu bertanya, &doublequote;Wahai, orang-orang Quraisy, menurut pendapatmu, apa yang akan kuperbuat terhadapmu sekarang?&singlequote;&singlequote;
Mereka menjawab, &singlequote;&singlequote;Yang baik-baik! Wahai saudara kami yang pemurah, sepupu kami yang pemurah!&singlequote;&singlequote;
Nabi kemudian bersabda, &singlequote;&singlequote;Pergilah kamu sekalian. Kalian semuanya sudah bebas.&singlequote;&singlequote;
Demikianlah, suatu pengampunan yang beliau pilih. Sikap ini menunjukkan kebesaran jiwa yang sangat indah, bahkan terhadap orang-orang yang telah memusuhinya.
Dengan demikian, hati mereka menjadi luluh bahkan berbalik menjadi pendukung Rasulullah, sehingga menjadi mercusuar tersebarnya Islam ke seluruh penjuru dunia.


