JANGAN NODAI TAHUN BARU DENGAN MAKSIAT

Sep 21, 2026 - 17:28
 0  0
JANGAN NODAI TAHUN BARU DENGAN MAKSIAT

Momen perayaan tahun baru bagi sebagian masyarakat merupakan momen spesial, yang selalu ditunggu setiap tahun. Berbagai acara dan perayaan digelar untuk memeriahkan saat pergantian tahun ini di berbagai wilayah. Namun sangat disayangkan, terkadang di sisi lain, momen perayaan tahun baru juga dijadikan ajang bermaksiat bagi sebagian orang. 

Lalu bagaimana idealnya umat Muslim menyikapi perayaan tahun baru? Untuk mengetahui hal tersebut, Majalah PEDULI telah berbincang dengan K.H. Muhammad Cholil Nafis, Lc., M.A., Ph.D, Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia. Berikut transkrip selengkapnya.

Bagaimana sebaiknya umat Muslim menyikapi momen Tahun Baru Masehi?

Momen pergantian tahun ini adalah peringatan atas berjalannya waktu. Waktu yang sangat berharga dan apa bila kita tidak bisa menghargainya, maka tersia-sialah hidup ini. Momen pergantian waktu dari tahun ke tahun, tentunya juga mengingatkan bertambahnya umur sekaligus berkurangnya jatah hidup kita sebelum dipanggil menghadap Allah ﷻ.

Oleh karena itu, yang harus kita lakukan dalam momen ini adalah muhâsabatunnafsi; apa yang kita lakukan, apa yang kita persembahkan, dan apa bekal kita dalam hidup ini untuk generasi selanjutnya. Juga tidak kalah penting sebagai penyemangat di tahun yang baru, momen pergantian tahun kita isi dengan banyak beristigfar, bershalawat, dan berdzikir kepada Allah ﷻ.

Selain itu Kiai?

Selain bermuhasabah diri kita juga perlu menjadikan momen tahun baru, untuk beresolusi merencanakan aktifitas kita di masa mendatang. Apa pencapaian-pencapaian di tahun 2022 yang perlu kita lestarikan di tahun berikutnya? Juga apa kegagalan dan keluputan kita yang harus perbaiki? Hal ini perlu agar kita lebih bersemangat untuk menjalani masa depan.

Hal-hal apa yang harus dihindari dalam peringatan tahun baru?

Yang pertama, jangan sampai tahun baru dijadikan momen bermaksiat. Kemeriahan perayaan tahun baru terkadang disalah-gunakan oleh sebagian orang, untuk bermaksiat secara masal. Umat Muslim harus punya prinsip dalam hal ini, maksiat dalam bentuk apapun harus dilarang dan dihindari. 

Yang kedua, pemborosan dan foya-foya. Beli kembang api berlebihan, berlibur sembari hura-hura yang menyia-nyiakan waktu dan harta. Hal-hal semacam ini sama sekali tidak baik dan tidak perlu dilakukan. Kalau ada banyak waktu libur, mari manfaatkan untuk bersilaturahmi dengan saudara dan sanak famili. Begitu juga kalau sedang ada kelapangan rezeki, mari kita gunakan untuk membantu saudara yang membutuhkan.

Jangan sampai peringatan tahun baru yang mestinya jadi momen kebaikan, kita nodai dengan maksiat dan kejelekan di awal tahun. Masih banyak hal yang dapat kita lakukan, berupa kegiatan-kegiatan positif untuk mengisi momen tahun baru bersama sahabat dan keluarga.

Pesan Kiai berkenaan dengan tahun baru?

Bagi kami memaknai waktu itu sama saja, baik Hijriyah maupun Masehi. Masehi dihitung dari lahirnya Nabi Isa AS, dan hijriyah dari hijrahnya Rasulullah ﷺ. Sama-sama waktu. Mungkin keduanya memiliki spirit yang berbeda, namun tidak bisa disifati dengan keimanan. Dalam artian bulan Hijriyah milik orang Islam, dan masehi milik orang Non-Muslim. Semuanya milik Allah, yang membedakan adalah menghitung perputaran waktunya menggunakan Matahari dan Bulan.

Oleh karena itu, bagi Umat Islam, mari kita jadikan momen pergantian tahun sebagai momen mengakhiri tahun yang berlalu dengan baik dan menyongsong tahun akan datang dengan lebih baik. Waktu yang kita miliki hanya berputar dalam tiga kondisi, yakni waktu yang telah berlalu, waktu saat ini, dan waktu yang akan datang.

Maka pandai-pandailah memanfaatkan waktu, jangan sampai mengisi waktu senggang dan rezeki yang lapang dengan hura-hura dan foya-foya serta bermaksiat. Manfaatkan keduanya untuk memperbaiki diri dalam ibadah, juga mempererat silaturahmi dengan sanak keluarga di tahun baru ini, terlebih selama tiga tahun ini kita banyak terhambat untuk bersilaturahmi karena Pandemi Covid-19.

*AF

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow

Zainuddin Muslih, S.Pd verified-symbol "Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis." ― Abu Hamid Al-Ghazali