FAKTA SEJARAH SURAU, PUSAT DAKWAH DI MINANGKABAU

Okt 21, 2026 - 11:14
 0  7
FAKTA SEJARAH SURAU, PUSAT DAKWAH DI MINANGKABAU

Surau merupakan salah satu institusi penting dalam sejarah Islam di Minangkabau. Kata surau konon berasal dari bahasa Arab sughra yang berarti kecil, lalu berubah sesuai dialek menjadi “surau”, yakni bangunan yang lebih kecil dari masjid dan awalnya menjadi pelengkap rumah gadang. Sebelum Islam berkembang, surau menjadi tempat para bujangan laki-laki berkumpul, bermusyawarah dan tidur. Setelah Islam masuk, fungsinya meluas menjadi tempat mengaji Al-Qur’an, shalat, sekaligus pusat pendidikan Islam bagi para urang siak atau santri.

Surau yang besar berkembang menyerupai pesantren. Guru atau kiai pengelolanya disebut tuanku, sedangkan pengasuh surau besar dikenal sebagai tuanku syekh. Sistem pengajarannya menggunakan pola salafi melalui halaqah, talaqqi dan sama’i. Surau pertama yang dikenal adalah Surau Ulakan, Pariaman, yang didirikan Syekh Burhanuddin Ulakan (1646–1691), murid ulama Aceh Syekh Abdurrauf Singkel dan Syekh Abdullah Arif. Pada 1840, Syekh Abdurrahman (1777–1899) mendirikan Surau Batu Hampar, Payakumbuh, yang kemudian memiliki ribuan urang siak. Selanjutnya muncul Surau Parabek, Silungkang dan berbagai surau besar lainnya.

Surau bukan hanya mengajarkan fikih, tafsir, tata bahasa Arab dan manthiq, tetapi juga tarekat. Surau Ulakan dikenal sebagai pusat tarekat Syathariyah, sedangkan Batu Hampar terkenal dengan tradisi suluk. Karena banyak dibangun dekat sumber air, surau sering menjadi titik tumbuh permukiman, perdagangan dan pasar. Jaringannya terhubung dengan jaringan ulama, tarekat, pertanian, pertambangan dan jalur perdagangan Minangkabau.

Pada abad ke-18, muncul jaringan tarekat Naqsyabandiyah, Syathariyah dan Qadiriyah. Surau Ulakan kuat dalam fikih, Surau Kamang dalam ilmu alat seperti nahwu dan sharaf, Kota Gadang dalam manthiq dan ma’ani, sementara Koto Tuo terkenal dengan tafsir. Tuanku Syekh Nan Tuo kemudian mengintegrasikan berbagai tradisi keilmuan itu di Surau Koto Tuo Empat Angkat, Agam, yang pada akhir abad ke-18 menjadi pusat pembelajaran dan didatangi santri dari berbagai daerah.

Perkembangan surau kemudian terganggu oleh konflik Kaum Padri dengan kaum adat dan masuknya kolonialisme Belanda. Perang Padri memutus banyak jaringan keulamaan, tarekat, perdagangan dan pusat ekonomi strategis. Memasuki abad ke-20, komunitas surau tetap melakukan perlawanan dan mengajarkan kemandirian ekonomi, termasuk melalui pertanian.

Untuk bertahan menghadapi perubahan zaman, sejumlah surau mengadopsi sistem madrasah dengan kurikulum modern, sebagaimana model Sumatera Thawalib. Dari perpaduan sistem salafi dan madrasah lahirlah surau-surau yang tetap bertahan, seperti Surau Candung Bukittinggi oleh Syekh Haji Sulaiman ar-Rasuli, Surau Parabek oleh Syekh Haji Ibrahim Musa, dan Surau Jaho Padang Panjang oleh Syekh Haji Jamil Jaho yang berhaluan Ahlussunnah Waljamaah.

Surau dengan demikian bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat pendidikan, dakwah, tarekat, kehidupan sosial dan jaringan ekonomi yang ikut membentuk peradaban Islam Minangkabau. 

~ Sumber: Ahmad Baso, NU Online – “Surau, Pusat Dakwah di Minangkabau”

(Jeki/Peduli)

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow

Zainuddin Muslih, S.Pd verified-symbol "Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis." ― Abu Hamid Al-Ghazali