BELAJAR KETEGUHAN DARI NABI ISMAIL: SENI KOMUNIKASI ORANG TUA DAN ANAK
Di tengah berbagai tantangan pengasuhan modern, Al-Quran menghadirkan potret parenting yang begitu kuat melalui kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam Surah Ash-Shaffat ayat 102. Bukan sekadar kisah pengorbanan, melainkan pelajaran tentang komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak.
Saat menerima perintah dalam mimpi untuk menyembelih putranya, Nabi Ibrahim tidak serta-merta memaksakan kehendak. Ia membuka dialog dengan panggilan lembut, “Yā bunayya” (wahai anakku tercinta). Panggilan ini merupakan bahasa cinta dan kasih sayang. Ia lalu menjelaskan kegundahannya dan bertanya, “Fanẓur mādzā tarā” — “Pikirkanlah, bagaimana pendapatmu?”
Inilah prinsip komunikasi asertif yang jauh mendahului teori parenting modern: jujur, terbuka, dan memberi ruang anak menyampaikan pendapat. Walau sudah nyata perintah wahyu, Nabi Ibrahim tidak agresif, tidak pula pasif. Ia memanusiakan anaknya sebagai pribadi yang layak didengar.
Jawaban Nabi Ismail pun mencerminkan kematangan emosional: “Yā abati if‘al mā tu’mar, satajidunī insya Allah minash-shābirīn.” Ia memanggil ayahnya dengan penuh hormat, lalu menyatakan kesiapan untuk taat. Keteguhan itu bukan muncul tiba-tiba, melainkan buah dari pola asuh berbasis tauhid, keteladanan, dan komunikasi hangat.
Dari kisah ini, ada tiga pelajaran penting bagi orang tua masa kini. Pertama, gunakan panggilan yang memuliakan—kata-kata membentuk rasa aman anak. Kedua, sampaikan pesan besar dengan dialog, bukan tekanan. Ketiga, validasi perasaan anak dan beri ruang berpikir.
Anak tangguh lahir dari rumah yang menghadirkan kasih sayang dan keteladanan. Keteguhan Nabi Ismail adalah cermin bahwa komunikasi yang sehat di dalam keluarga mampu melahirkan pribadi yang sabar, berani, dan taat pada nilai-nilai kebenaran.
(jeki/Peduli)


