PENTINGNYA PEMULIHAN PSIKOLOGIS PASCA BENCANA
Bencana memicu dampak psikologis serius dan jangka panjang pada korban, meliputi stres akut, kecemasan hingga depresi. Dalam perspektif Islam, bencana bukanlah sekadar fenomena alam biasa, melainkan instrumen Tuhan yang memiliki makna mendalam, mulai dari ujian keimanan hingga peringatan atas perbuatan manusia. Lalu bagaiamana dampak psikologis dan intervensi psikologis yang bisa diterapkan dalam menangai korban terdampak bencana ? Berikut petikan wawancara reporter Majalah PEDULI, Samuel Gibran, bersama seorang ahli psikologi Islam, Ustadz Moch. Ali Wafa, S.Psi.
Bagaimana kondisi psikologis yang umumnya dialami oleh korban pasca bencana alam?
Umumnya, korban pasca bencana alam mengalami syok, trauma, ketakutan berlebihan, kecemasan, kesedihan mendalam, gangguan tidur, serta rasa tidak aman. Pada sebagian individu, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi stres berlebihan. Hal ini merupakan respons yang wajar dan manusiawi, mengingat manusia hidup secara sosial dan membangun rumah, pekerjaan, keluarga, serta hubungan sosial dalam waktu yang lama. Ketika semua itu hilang secara tiba-tiba, perubahan kondisi mental tidak dapat dihindari.
Bagaimana pandangan Psikologi Islam terhadap kondisi psikologis korban bencana?
Psikologi Islam memandang kondisi psikologis tersebut sebagai respons manusiawi terhadap ujian hidup. Bencana dipahami sebagai ujian dari Allah subhanahu wa ta’ala yang perlu dihadapi dengan kesabaran, tawakal, serta penguatan iman. Hilangnya berbagai hal duniawi secara mendadak menjadi bentuk peringatan dan penyadaran bahwa sesungguhnya manusia hanya membutuhkan Allah dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.
Dampak psikologis apa yang paling sering dialami oleh korban pasca bencana?
Dampak psikologis yang paling sering dialami korban pasca bencana adalah trauma, kecemasan, depresi, rasa kehilangan, dan penurunan semangat hidup, terutama pada korban yang kehilangan anggota keluarga atau harta benda. Selama ini, bantuan yang diberikan sering kali lebih berfokus pada aspek fisik dan materi. Padahal, aspek psikologis atau jiwa juga membutuhkan perhatian serius, seperti pemulihan kepercayaan diri, ketenangan batin, rasa aman, serta dukungan mental agar korban dapat bangkit dan tidak putus asa.
Bagaimana Psikologi Islam memaknai bencana dari sisi psikologis dan spiritual?
Dalam Psikologi Islam, bencana dimaknai sebagai ujian untuk meningkatkan keimanan, sarana introspeksi diri, serta kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Bencana juga mengingatkan manusia bahwa qadha dan qadar merupakan bagian dari rukun iman. Secara psikologis, pemaknaan ini membantu individu untuk menerima keadaan, menguatkan hati, dan bangkit kembali.
Intervensi apa saja yang digunakan dalam Psikologi Islam untuk membantu pemulihan korban bencana?
Intervensi dalam Psikologi Islam meliputi pendampingan emosional, zikir dan doa, penguatan makna hidup, konseling berbasis nilai-nilai Islam, serta dukungan sosial dan spiritual dari keluarga dan masyarakat. Selain itu, penting untuk meyakinkan para korban bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi musibah yang dialami.


