IMAM AL-KISAI IKON SUKSES BELAJAR DI USIA TUA
Imam al-Kisai, bernama lengkap Abū al-Ḥasan 'Alī ibn Ḥamzah ibn 'Abd Allāh ibn 'Utsman yang kemudian mashur sebagai Imam Qiraat, Nahwu, pakar filologi dan lainnya, merupakan ikon bahwa tidak ada kata terlambat dalam mencari ilmu. Hal ini mengingat, al-Kisa’i baru semangat belajar pada usia yang cukup dewasa, yaitu usia 40 tahun.
Al-Hafidz al-Dzahabi menyebutkan, bahwa al-Kisai memulai belajarnya pada usia dewasa (Ta’allama ‘an kibar), sedangkan Imam Ibnu Hajar menyebutkan, bahwa al-Kisa’i pada mulanya sebagai pengembala kambing yang ia tekuni sejak kecil hingga menginjak usia tua, yaitu usia 40 tahun.
Suatu hari, tepatnya ketika beliau sedang menggembala kambing-kambingnya, ia melihat seorang ibu sedang menasihati anaknya yang pemalas agar pergi ke halaqah ilmiah agar bisa menghafal al-Qur’an. “Wahai anakku, pergilah ke majelis ilmu untuk belajar, agar engkau tidak seperti pengembala kambing ini.”
Nasehat sang ibu itu menjadi sindiran dan tamparan keras yang menggudahnya untuk memulai belajar, khususnya dalam fan Qiraat.
Dengan tekad yang kuat, di usia yang mulai senja itu, ia memacu semangat belajarnya. Sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Ibnu Hajar,
فَذَهَبَ فَبَاعَ غَنَمَاهُ وَانْطَلَقَ إِلَى التَّعَلُّمِ وَتَحْصِيْلِهِ، فَأَصْبَحَ إِمَاماً فِى الُّلغَةِ وَإِمَامًا فِى القِرَاءَاتِ وَيُضْرَبُ بِهِ المَثَلَ فِي الْعِلْمِ وَكِبَرِ الْهِمَّةِ
“Maka (Imam al-Kisa’i) pun pergi dan menjual semua kambingnya. Kemudian segera belajar dan menuai ilmu. Hingga beliau menjadi imam dalam ilmu bahasa dan ilmu qiraah. Dan al-Kisa’i dijadikan ikon permisalan dalam tekad yang kuat dalam mencari ilmu.
~ Sumber: Abdurrahman as-Sakhawi, al-Jawahiru wa ad-Durar fi Tarjamati Syaikhil Islam Ibni Hajar, Mesir, Dar Ibnu Hazm, hal. 38.
(Jeki | Peduli)


