DUA JUTA PELAYAT UNTUK JENAZAH IMAM AHMAD
Pada masa Khalifah al-Mu’tashim, kelompok Jahmiyyah yang berhasil menjadikan paham resmi negara, bahwa al-Quran adalah makhluk—semakin membabi buta memaksa para ulama untuk tunduk terhadap keinginan penguasa.
Bagi yang tidak mau tunduk, maka akan disiksa dalam penjara. Siksaan itu semakin berat saat al-Watsiq menjadi Khalifah selanjutnya.
Karena beratnya siksaan, tidak sedikit ulama yang akhirnya mengucapkan apa yang dituntut oleh penguasa zalim itu meski cuma dalam lisan saja. Tetapi tidak dengan Imam ahli hadis ini. Beliau tetap kukuh walau dicambuk, ditusuk, dan disiksa hingga pingsan.
Ketegaran dan ketabahan Imam Ahmad ini digambarkan oleh Ishaq bin Ibrahim, “Saya belum pernah melihat seorang yang masuk ke penguasa lebih tegar dari Imam Ahmad bin Hanbal, di mana kami saat itu di mata penguasa hanya seperti lalat.”
Imam Ahmad bin Hanbal mulai sakit pada malam Rabu, dua hari dari bulan Rabiul Awal tahun 241 Hijriah, ia sakit selama sembilan hari. Warga sekitar mulai mengetahuinya, dan menjenguknya siang dan malam. Sakitnya kian parah, hingga wafat pada pagi hari Jumat, 12 Rabiul Awal 241 H pada usia 77 tahun di kota Bagdad.
Keajaiban banyak terjadi saat prosesi pemakaman, yang dihadiri ratusan ribu pelayat, hingga mencapai 2 juta pelayat yang memenuhi rumah-rumah dan jalan-jalan, bahkan hingga kapal-kapal laut yang hendak menuju lokasi. Melihat keajaiban itu, tidak kurang dari 10 ribu orang-orang kafir Yahudi, Nashara, dan Majusi yang masuk Islam.
Gurunya, Imam Syafi&singlequote;i mengatakan, &doublequote;Setelah saya keluar dari Bagdad, tidak ada orang yang saya tinggalkan di sana yang lebih terpuji, lebih saleh dan yang lebih berilmu daripada Ahmad bin Hanbal.&doublequote;
Abu Isma’il at-Tirmidzi mengatakan, “Pernah beliau dihadiahi uang sebanyak sepuluh ribu dirham, tetapi ditolaknya.” Bahkan lima ratus dinar, namun beliau tetap tidak mau menerimanya dan tetap teguh dengan pendirian yang hak dan menolak yang bathil.


