BAGI PARA ULAMA, BENCANA MENGAJARKAN IMAN DAN KERENDAHAN HATI

Mar 13, 2026 - 10:59
 0  3
BAGI PARA ULAMA, BENCANA MENGAJARKAN IMAN DAN KERENDAHAN HATI

Sejarah sering kali menyimpan kisah-kisah sunyi tentang bencana alam. Jauh sebelum istilah tsunami, gempa tektonik, atau likuifaksi dikenal dunia modern, para ulama klasik telah merekam peristiwa-peristiwa dahsyat itu dengan ketelitian yang menggetarkan.

Ulama besar seperti Imam Jalaluddin as-Suyuthi (w. 911 H), Ibnu Katsir (w. 774 H), dan Ibnu al-Jauzi (w. 597 H) telah merekam peristiwa-peristiwa tersebut secara rinci dalam karya sejarah mereka.

Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam Târîkh al-Khulafâ’ menuturkan sebuah tragedi besar yang terjadi di Ramallah pada tahun 460 Hijriah. Gempa hebat mengguncang daratan, disusul surutnya air laut hingga sejauh perjalanan sehari. Warga yang turun ke dasar laut untuk mengambil ikan tak menyangka bahwa gelombang besar akan kembali—menelan ribuan nyawa dalam sekejap. Korban jiwa disebut mencapai 25 ribu orang. Kisah ini juga dicatat oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidâyah wan-Nihâyah, bahkan disebutkan dampaknya terasa hingga Madinah dan Kufah.

As-Suyuthi juga mengisahkan bencana lain di Ray, Iran, pada tahun 346 Hijriah. Tanah ambles, desa-desa hancur, air berbau busuk menyembur dari bumi—fenomena yang kini dikenal sebagai likuifaksi. Catatan itu menunjukkan bahwa bencana alam telah lama menjadi bagian dari sejarah manusia, dengan pola dan kedahsyatan yang tak jauh berbeda dari masa kini.

Yang paling mengesankan, para ulama tersebut tidak tergesa-gesa memberi vonis teologis. Mereka tidak menyebut bencana sebagai azab yang pasti, melainkan berhenti pada pelaporan fakta. Sebab, makna di balik musibah—apakah azab, ujian, atau penghapus dosa—adalah wilayah ilmu Allah ﷻ semata.

Dari kisah-kisah ini, kita belajar adab menghadapi bencana: ketika menimpa diri sendiri, lakukan introspeksi dan tobat; ketika menimpa orang lain, hadirkan empati, bukan penghakiman. Warisan ulama klasik ini mengajarkan bahwa iman sejati berjalan seiring dengan kerendahan hati dan kehati-hatian dalam berkata.

~ Sumber: As-Suyuthi, Târîkh al-Khulafâ’, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah. hlm. 300, Ibnu Katsir, al-Bidâyah wa an-Nihâyah, Beirut: Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabî. XII/96 dll. 

Jeki/Peduli

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow

Zainuddin Muslih, S.Pd verified-symbol "Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis." ― Abu Hamid Al-Ghazali