JEJAK PENGORBANAN: SEJARAH DAN FALSAFAH QURBAN
Setiap 10 Dzulhijjah, umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Adha. Di balik penyembelihan hewan kurban, tersimpan sejarah panjang yang membentang dari masa kenabian hingga praktik filantropi modern.
Akar teologis qurban bersumber dari kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail, yang diabadikan dalam Al-Qur’an (QS. Ash-Shaffat: 102–107). Peristiwa penggantian Ismail dengan seekor domba menandai transformasi makna pengorbanan: dari ujian personal menjadi syariat kolektif. Sejak masa Nabi Muhammad pada abad ke-7 M, praktik kurban dilaksanakan secara terbuka sebagai bagian dari rangkaian haji dan shalat Id.
Secara historis, ritual qurban telah dilakukan lebih dari 14 abad. Dalam tradisi haji di Tanah Suci, penyembelihan hewan dilakukan di Mina sebagai bagian dari manasik. Sejak masa Nabi Muhammad ﷺ, penyembelihan hewan kurban haji dilakukan di Mina sebagai bagian manasik haji, khususnya pada 10–13 Dzulhijjah (hari Nahr dan hari Tasyrik). Di era modern, pengelolaannya semakin terorganisasi. Pemerintah Arab Saudi, melalui proyek pengolahan daging kurban (Adahi Project), setiap tahun menangani ratusan ribu hingga lebih dari satu juta hewan kurban jamaah haji untuk didistribusikan ke berbagai negara Muslim.
Di Indonesia—negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia—jumlah hewan kurban setiap tahun mencapai jutaan ekor. Data Kementerian Pertanian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan angka sapi dan kambing kurban berkisar 2–3 juta ekor secara nasional saat Idul Adha. Perputaran ekonominya menembus triliunan rupiah, menggerakkan peternak lokal hingga distribusi logistik desa-kota.
Namun angka-angka itu bukan sekadar statistik. Al-Qur’an dalam QS. Al-Hajj: 37 menegaskan bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah darah dan dagingnya, melainkan ketakwaan. Secara filosofis, kurban adalah pendidikan spiritual tentang ketaatan total dan keikhlasan. Ia juga menjadi mekanisme distribusi kesejahteraan: daging dibagikan kepada fakir miskin, memperkecil jarak sosial setidaknya untuk sesaat.
Sepanjang sejarahnya, qurban telah berevolusi dari ujian seorang ayah dan anak menjadi praktik ibadah global yang melibatkan jutaan orang dan jaringan distribusi lintas negara. Mengikat memori kenabian, menggerakkan solidaritas, dan meneguhkan bahwa pengorbanan adalah fondasi kemanusiaan.
~ Sumber: Al-Jami‘ al-Shahih al-Bukhari, Kitab al-Hajj, Dar Thauq al-Najah, 2001 M. Ministry of Hajj and Umrah, Kingdom of Saudi Arabia. Hajj Statistics Annual Report, edisi tahun. 2022. dll.
Jeki/Peduli


