PENDIDIKAN ANAK FASE TAMYIZ

Jan 13, 2024 - 08:20
Jan 13, 2024 - 08:20
 0  1186
PENDIDIKAN ANAK FASE TAMYIZ
PENDIDIKAN ANAK FASE TAMYIZ

Dalam parenting Islam, “Shalah al-Usrah wa Daurul-Abawain fi at-Tarbiyah” karya al Habib Umar bin Muhammad Bin Hafidz; terdapat lima fase atau tahapan yang harus diperhatikan oleh orang tua dalam proses mendidik anak, yaitu fase pernikahan, fase kehamilan, fase kelahiran, fase tamyiz, dan fase madrasah (pendidikan informal). 

 

Anak dapat dikatakan telah memasuki fase tamyiz adalah masa dimana anak-anak itu telah dapat membedakan sesuatu dengan baik. Anak dapat membedakan mana hal yang baik untuk dirinya dan mana yang buruk bagi dirinya sendiri. Mandiri dalam memenuhi kebutuhanb dasar dirinya, seperti, bisa makan, mandi, dan berpakaian sendiri. Tidak hanya itu saja, dalam fase tamyiz ini anak secara akal sudah mampu menilai sesuatu yang bermanfaat atau tidak, memiliki rasa malu, hingga mampu membedakan kanan dan kiri. 

 

Mengenai batasan usia, tidak ada ketentuan secara pasti. Bisa berbeda antar individu. Namun al-Imam Abu Hanifah menetapkan usia tamyiz pada usia tujuh tahun untuk anak laki-laki, dan usia sepuluh tahun untuk anak perempuan.

 

Pencapaian usia tamyiz ini juga sangat dipengaruhi banyak hal, mulai dari kebiasaan lingkungan keluarga, materi pelajaran, dan arahan serta teladan dari orang tua. Maka dari itu, dalam fase tamyiz ini seorang anak harus mendapatkan banyak perhatian dari orang tua seiring dengan pertumbuhan akalnya. Pada masa sebelum tamyiz dan sesudah tamyiz, biasanya orang tua akan menggunakan metode pendidikan berupa mendengar dan menyimak, sebab pada usia dini memang anak telah diberikan ingatan yang sangat kuat, terutama pada hal-hal yang telah dilihat dan didengarkannya.

 

Dalam usia tamyiz ini, anak telah memiliki kedudukan dan peran hukum tersendiri. Semisal anjuran agar melaksanakan shalat, dll. 

 

Dikisahkan terdapat seorang wanita yang tengah mendatangi Rasulullah SAW dan mengadu, “Suamiku ingin pergi membawa anakku”, maka Rasulullah SAW pun bertanya kepada anak kecil tersebut. “Wahai anak kecil, ini adalah ayahmu dan itu ibumu. Pilihlah siapa yang engkau inginkan!”. Anak kecil itu kemudian menggandeng tangan ibunya dan kemudian berlalu.

 

Berdasarkan hadits tersebut, menyatakan bahwa anak kecil itu telah memasuki fase tamyiz sehingga mampu memilih sekaligus menunjukkan sikap mandiri.

 

Pada fase ini, anak perlu dikenalkan secara intens mengenai existensi Tuhan; keaguangan-Nya, kekuasannya terhadap makhluk yang diciptakan-Nya. Seyogyanya dibiasakan menyebut Nama Allah Subhanahu wa Ta’ala beserta keagungan-Nya, dan menyebut nama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berserta keindahan budi pekertinya. 

 

Pada usia ini, anak juga diajari adab-adab makan-minum, mandi, tidur, dan adab-adab Syariah lainhnya secara perlahan sekiranya anak tersebut mampu mengingat walau tanpa menghafalnya. 

 

(Jeki/Peduli) 

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow