KISAH SALAHUDDIN AL-AYYUBI MENGOBATI MUSUHNYA YANG SAKIT

Sep 10, 2026 - 13:35
 0  2
KISAH SALAHUDDIN AL-AYYUBI MENGOBATI MUSUHNYA YANG SAKIT

Di tengah berkecamuknya Perang Salib Ketiga (1189–1192), sejarah mencatat sebuah kisah yang menunjukkan bahwa kemuliaan akhlak dapat berdiri tegak bahkan di medan perang. Tokohnya adalah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi, pemimpin Muslim yang dikenal keberaniannya dan keluhuran budi pekertinya.

Suatu ketika, Raja Richard I dari Inggris, yang dikenal dengan julukan Richard the Lionheart, jatuh sakit saat memimpin pasukannya di sekitar Acre. Kabar itu sampai kepada Shalahuddin. Alih-alih memanfaatkan keadaan untuk melemahkan lawannya, ia justru mengirimkan tabib pribadinya guna merawat sang raja. Tidak hanya itu, Shalahuddin juga menghadiahkan buah-buahan segar dan salju dari pegunungan agar minuman Richard tetap dingin, sebuah kemewahan yang sangat berharga pada masa itu.

Dalam riwayat lain disebutkan, ketika kuda tunggangan Richard tewas di medan perang, Shalahuddin mengirimkan dua ekor kuda pilihan. Baginya, seorang kesatria tidak pantas mengalahkan lawan yang berada dalam kondisi lemah. Kemenangan sejati adalah kemenangan yang diraih secara terhormat.

Meski kedua pemimpin besar ini tidak pernah bertemu secara langsung, mereka saling menghormati melalui utusan dan pertukaran hadiah selama proses perundingan damai. Sikap tersebut akhirnya membuka jalan bagi Perjanjian Jaffa pada tahun 1192, yang mengakhiri Perang Salib Ketiga dan menjamin para peziarah Kristen dapat mengunjungi Yerusalem dengan aman.

Kisah ini mengajarkan bahwa Islam menempatkan nilai kemanusiaan di atas kebencian. Seorang pemimpin sejati tidak hanya dikenang karena keberhasilannya memenangkan peperangan, tetapi juga karena kemampuannya menjaga kehormatan, menebarkan kasih sayang, dan memperlakukan bahkan musuhnya dengan adil.

Sumber: Baha ad-din ibn shaddad, The Rare and Excellent History of Saladin, dll. 

(JK/Peduli)

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow

Zainuddin Muslih, S.Pd verified-symbol "Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis." ― Abu Hamid Al-Ghazali