SYAQIQ AL-BALKHI DAN BURUNG YANG PATAH SAYAPNYA

Okt 21, 2024 - 20:24
 0  627
SYAQIQ AL-BALKHI DAN BURUNG YANG PATAH SAYAPNYA

Disebutkan dalam kitab Risalatul Qusyairiyah, sebuah kisah inspiratif dari kisah Ibrahim bin Adham, seorang sufi besar kelahiran Balk, Afganistan, 718 M, wafat di Arab 782 M. Beliau memiliki seorang murid bernama Syaqiq al-Balkhi, yang merupakan pengusaha sukses di daerah Syam (sekarang meliputi wilayah Palestina, Suriah, dan Lebanon). Sebagai seorang yang kaya raya dan terkenal dermawan, ia senantiasa mengeluarkan zakat dan bersedekah. 

Suatu hari, Syaqiq al-Balkhi meminta izin kepada sang guru untuk berdagang ke wilayah Syam. Namun, baru beberapa hari berjalan, Syaqiq sudah kembali lagi di majelis gurunya.

Melihat keberadaan muridnya, sang guru, Ibrahim bin Adham, merasa heran, gerangan apa yang menyebabkan sang murid kembali begitu cepat. Syaqiq kemudian mengisahkan peristiwa yang dialaminya: “Ketika saya dalam perjalanan dagang, saya melewati sebuah oase. Tiba-tiba saya melihat seekor burung kecil yang patah sayapnya, yang tidak bisa terbang mencari makan. Dalam hati saya bertanya, bagaimana burung yang patah kedua sayapnya itu mampu bertahan hidup? 

Pada saat aku berpikir, tiba-tiba seekor burung besar datang menghampirinya. Menempelkan paruhnya, seperti menyuapi makanan kepada burung yang patah sayap itu.

Sang mursyid mengatakan: “Seperti itulah mestinya manusia berbuat saling menyayangi di antara mereka. Tetapi mengapa engkau kembali ke sini dan meninggalkan perdaganganmu?”

Sang murid menjawab: “Allah Maha Kuasa memberikan rezeki kepada hambanya, sebagaimana kepada burung kecil yang patah sayap itu. Oleh sebab itu aku datang ke sini, ingin fokus beribadah kepada Allah dan berpasrah total kepada Allah.” 

Mendengar itu, Ibrahim bin Adham memberikan nasehat yang sangat bijaksana, "Sungguh aneh kamu Syaqiq... Apakah engkau mengira dengan engkau beribadah dan meninggalkan usaha perdaganganmu niscaya engkau meraih ridha Allah? Mengapa engkau tidak meniru burung besar yang memberikan makan kepada burung kecil yang patah sayapnya, sehingga kamu akan menjadi lebih utama daripada mereka. Apakah kamu tidak mendengar sabda Nabi saw, ‘Tangan di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah’."

Mendengar petuah sang guru Ibrahim bin Adham, Syaqiq al-Balkhi pun terdiam seribu bahasa menyadari kesalahan dan sempitnya dalam berpikir.

“Ketahuilah muridku, seorang sufi harus mencari derajat yang lebih baik di hadapan Allah dengan usaha terbaik yang dapat ia kerjakan.” Kata sang mursyid kepada Syaqiq.

~ Sumber: kitab Risalatul Qusyairiyah

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow