DUKA PARA ULAMA SAAT KEHILANGAN RAMADHAN
Ibnu Rajab al-Hanbali ketika menggambarkan kondisi para ulama menyikapi bulan Ramadhan sungguh luar biasa. Enam bulan sebelum Ramadhan, mereka berdoa agar disampaikan pada bulan agung ini. Sedangkan enam bulan sesudahnya, mereka sangat gigih berdoa agar segenap amalan mereka diterima Allah Subhanahu Wata’ala. Setelah Ramadhan berakhir, mereka menampakkan kesedihan, dan merasa kehilangan. Di samping itu, mereka sangat antusias saling menasihati agar bisa meneruskan ketaatan sepanjang tahun.
Suatu saat, Umar bin Abdul Aziz keluar rumah di hari Idul Fitri. Dalam khutbahnya beliau menyampaikan, “Wahai rakyatku sekalian! Kalian telah berpuasa karena Allah Subhanahu Wata’ala selama tiga puluh hari. Demikian juga telah menunaikan shalat malam tiga puluh hari. Hari ini kalian keluar untuk memohon kepada Allah agar semua amalan diterima.” Pada momen itu, ada seorang yang menampakkan kesedihan. “Bukankah ini hari kegembiraan dan kesenangan?” Ia menjawab, “Benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba yang Allah perintahkan melakukan amalan. Sedangkan aku tidak tahu apakah amalan itu diterima atau tidak? Itulah yang membuatku sedih.”
Wahab bin al-Warad melihat suatu kaum yang tertawa di hari Idul Fitri, ia berkomentar, “Jika puasa mereka diterima, bukan seperti ini kondisi orang yang bersyukur. Jika tidak diterima, maka bukan demikian perbuatan orang yang takut.”
Imam Hasan al-Bashri berkata, “Sungguh ironis bagi orang yang tertawa pada hari ini di saat orang baik mendapat kemenangan dan orang jahat mengalami kegagalan.”
Khalifah Sayidina Ali memiliki kebiasaan unik setiap akhir malam bulan Ramadhan, beliau berseru, “Ooo, siapakah yang diterima amalnya lalu kita beri ucapan selamat kepadanya. Siapa pula yang tidak diterima amalnya, lalu kita berkabung untuknya.”
Dapat disimpulkan bahwa saat Ramadhan berakhir, mereka merasa sangat kehilangan. Mereka berada dalam kondisi harap-harap cemas apakah amalan-amalan selama Ramadhan diterima Allah, dan apakah tetap bisa beramal kebaikan di bulan-bulan setelahnya.
~ Sumber: Lathâ’iful-Ma’arif, Ibnu Rajab.


