MENINGKATKAN KEPEDULIAN DI BULAN RAMADAN
Bulan suci Ramadan adalah madrasah spiritual yang melatih umat Islam mencapai takwa, di mana salah satu pilar utamanya adalah kepedulian sosial (at-ta’awun ‘alal-birri wat-taqwa). Namun, di tengah kekhusyukan ibadah, realitas getir Indonesia yang rentan bencana menuntut perhatian segera. Rentetan bencana seperti banjir bandang, tanah longsor, dan erupsi gunung berapi yang melanda terus-menerus menjadikan Ramadan sebagai momentum krusial untuk mengaktualisasikan empati dan solidaritas.
Indonesia, yang berada pada Cincin Api Pasifik, secara struktural rentan terhadap bencana. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara konsisten menunjukkan tingginya frekuensi musibah hidrometeorologi. Awal tahun 2024, misalnya, ditandai dengan ratusan kejadian bencana, didominasi banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah, termasuk Sumatera Barat dan Sulawesi. Fakta lapangan menunjukkan kerugian tidak hanya materiil, tetapi juga ribuan korban jiwa. Ini menuntut respons yang melampaui donasi biasa, yakni kepedulian holistik.
Salah satu hikmah ibadah puasa adalah merasakan penderitaan kaum papa, sebuah praktik empati yang secara langsung menumbuhkan kepedulian. Ramadan menuntut kita menahan diri dari egoisme dan mengalihkan fokus pada amal muta'addi (amal yang manfaatnya meluas kepada orang lain). Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia,” (HR. Ahmad). Pesan pada hadis ini sangat relevan dalam konteks bencana, di mana kepedulian adalah wujud nyata dari ukhuwah insaniyah.
Ajaran Islam secara eksplisit mengaitkan keimanan dengan tindakan kepedulian, dan hal ini memuncak di Ramadan. Al-Qur’an mendorong pengeluaran harta di jalan kebaikan, sebagaimana firman Allah SWT: “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195).
Memberikan bantuan kepada korban adalah manifestasi al-ihsan (berbuat baik). Selain itu, kedermawanan Nabi Muhammad ﷺ meningkat drastis di bulan Ramadan, hingga digambarkan "seperti angin yang berhembus," (HR. Bukhari dan Muslim), menunjukkan bahwa puasa harus diimbangi dengan amal sosial yang meluas.
Oleh karena itu, ajaran kepedulian di bulan Ramadan harus diubah menjadi aksi nyata. Hal ini mencakup pengarahan zakat, infak dan sedekah pada lembaga penanggulangan bencana untuk rehabilitasi, pelibatan diri dalam program relawan psikososial untuk pemulihan trauma korban.
Namun yang tak kalah penting dari itu adalah memperluas kepedulian menjadi kepedulian ekologis. Mengingat banyak bencana hidrometeorologi diakibatkan kerusakan lingkungan. Umat Islam harus didorong untuk berpartisipasi dalam konservasi dan menentang eksploitasi alam.
Ramadan, dengan segala kekhusyukannya, adalah panggilan Ilahi untuk membuktikan bahwa ajaran ta’awun (tolong-menolong) adalah pondasi kehidupan sosial yang bermartabat dan penuh kasih sayang.


