ALLAH ﷻ HANYA MENERIMA YANG BAIK SAJA
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ
Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah ﷻ itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah ﷻ memerintahkan kepada orang-orang beriman seperti apa yang Dia perintahkan kepada para rasul-Nya.”
***
Al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad melanjutkan penjelasan betapa pentingnya menjaga suatu yang halal dan baik.
Senada dengan sabda Rasulullah ﷺ di atas adalah firman Allah ﷻ,
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً (المؤمنون: الآية51)
Wahai para Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal saleh.” (QS. Al-Mu’minun: 51)"
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ (البقرة: الآية172)
Dan Allah juga berfirman: ”Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami rezekikan kepada kalian” (QS. Al-Baqarah: 172)
Dalam kewajiban menjaga yang halal ini, Rasulullah ﷺ menyebutkan tentang seseorang yang menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut, dan berdebu. Ia menengadahkan tangannya ke langit sambil berdoa: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku,” padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dengan yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim)
Kata "baik" (طَيِّبٌ) dalam hadits ini memiliki makna suci, bersih, dan halal. Mengingat Allah ﷻ hanya menerima amal dari sumber yang halal dan suci. Sedangkan amal yang berasal dari yang haram tidak akan diterima.
Dalam hal ini Allah ﷻ memberlakukan yang sama kepada para rasul dan orang-orang beriman agar memakan makanan yang baik-baik dan halal. Karena makanan dan minuman yang dikonsumsi akan berpengaruh terhadap diterimanya doa, dzikir, dan amal yang dilakukannya, sebagaimana yang Rasulullah sebutkan dalam hadis di atas.
Mari kita sebagai seorang Muslim selalu berhati-hati dalam mencari rezeki, sehingga lahir batin kita bersih dan suci dan diterima di sisi Allah Yang Maha baik, bersih, dan suci.
~ Sumber: Pengajian Kitab An-Nashâih ad-Dîniyyah wal-Washâyâ al-Imâniyyah karya al-Imam al-Arif Billah Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Haddad al-Hadrami asy-Syafii


