EKONOMI MELAMBAT: SAATNYA MEMPERKUAT UMAT
Perekonomian Indonesia tengah menghadapi tantangan besar. Meski pertumbuhan masih positif, perlambatan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa pemulihan pasca pandemi belum sepenuhnya kokoh. Tekanan global dan persoalan struktural di dalam negeri membuat dampaknya terasa langsung oleh masyarakat, terutama kelompok rentan.
Situasi ini menuntut analisis yang jernih serta langkah strategis agar kesejahteraan dapat kembali menguat. Bagaimana akar persoalan ekonomi saat ini? Kebijakan apa yang perlu ditempuh? Dan sejauh mana lembaga zakat mampu membantu memperkuat ketahanan ekonomi umat?
Untuk menggali pandangan tersebut, Majalah PEDULI mewawancarai Muhyidin, M.M., Ketua Program Studi S1 Manajemen Bisnis Syariah STAI Sidogiri Pasuruan. Berikut petikan wawancaranya.
Kondisi perekonomian bangsa saat ini dinilai tidak stabil. Menurut Bapak, apa faktor utama yang menyebabkan situasi ekonomi menjadi carut-marut?
Dalam tiga tahun terakhir ekonomi Indonesia memang tumbuh positif, namun belum stabil. Pertumbuhan pada 2022 sebesar 5,31 persen turun menjadi 5,05 persen di 2023 dan 5,03 persen pada 2024. Angka ini menunjukkan perlambatan berulang. Tekanan datang dari dua arah. Dari eksternal, ekonomi kita terdampak perang dagang, konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi, serta fluktuasi harga komoditas dunia. Dari internal, masalah klasik seperti rendahnya produktivitas tenaga kerja, ketimpangan pendapatan, dan ketergantungan pada ekspor bahan mentah masih membayangi. Kebijakan fiskal dan moneter juga belum sepenuhnya seirama dalam mendorong sektor riil, terutama UMKM. Situasi ini menunjukkan bahwa ekonomi kita belum benar-benar pulih pasca pandemi. Data BPS triwulan I 2025 mencatat pertumbuhan hanya 4,87 persen (y-on-y) dan terkontraksi -0,98 persen (q-to-q), menandakan tantangan besar dalam menjaga momentum pertumbuhan.
Dalam situasi seperti ini, langkah apa yang seharusnya diambil pemerintah agar ekonomi kembali pulih dan kesejahteraan masyarakat meningkat?
Menurut saya ada tiga langkah besar yang perlu ditempuh pemerintah. Pertama, stabilisasi jangka pendek dengan mengendalikan inflasi pangan dan energi. Harga beras, minyak goreng, dan BBM sangat menentukan daya beli, sehingga subsidi harus tepat sasaran dan cadangan energi diperkuat. Kedua, pemerintah perlu mempercepat reformasi struktural: memperkuat manufaktur, mendorong hilirisasi, dan mengembangkan sektor yang lebih tahan guncangan seperti ekonomi digital dan industri halal. Peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan vokasional dan literasi digital menjadi kunci. Ketiga, pemberdayaan ekonomi rakyat. Akses pembiayaan UMKM harus diperluas, termasuk melalui lembaga keuangan syariah dan lembaga amil zakat. Pendekatan ekonomi syariah dapat menghadirkan sistem yang lebih adil dan berpihak pada kemaslahatan.
Bagaimana peran Lembaga Amil Zakat (LAZ) dalam membantu masyarakat yang terdampak kondisi ekonomi sulit serta mendukung pemulihan ekonomi umat?
Lembaga Amil Zakat kini tidak lagi sekedar menyalurkan dana sosial, tetapi menjadi motor pemberdayaan ekonomi umat. Contoh nyata adalah LAZ Sidogiri, yang tidak hanya menyalurkan zakat konsumtif, tetapi juga mengembangkan zakat produktif melalui modal usaha, pelatihan, dan pendampingan bagi masyarakat miskin serta pelaku usaha mikro. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip ekonomi syariah yang menekankan keadilan dan keberlanjutan. Zakat dikelola sebagai instrumen redistribusi yang mampu memberi efek berganda bagi sektor riil. Kinerja LAZ Sidogiri pun diakui secara nasional melalui dua penghargaan BAZNAS Awards 2025: LAZ Nasional Pelaporan Terbaik dan LAZ Nasional Pengumpulan Palestina Terbaik.
Apa pesan Bapak kepada generasi muda agar lebih peduli terhadap kondisi ekonomi bangsa dan turut berperan dalam memperbaikinya?
Generasi muda memegang peran strategis. Karena itu mereka harus menjadi produsen nilai, bukan hanya konsumen digital. Kreativitas dan inovasi perlu diarahkan untuk menciptakan peluang baru. Mereka juga perlu literasi ekonomi dan keuangan syariah agar memahami dampak kebijakan dan pentingnya etika bisnis—profit penting, tapi keberkahan lebih utama. Saya mendorong mereka aktif dalam kegiatan sosial-ekonomi seperti komunitas wirausaha, lembaga zakat, atau koperasi pesantren. Dari sana mereka belajar bahwa ekonomi adalah soal keadilan, kolaborasi, dan keberlanjutan. Bangsa ini akan kuat jika anak mudanya peduli, berani berinovasi, dan berpegang pada nilai moral, sebagaimana ditunjukkan ekonomi syariah yang menuntun agar pertumbuhan dan keadilan berjalan beriringan.


