MENJADI PEJUANG LINGKUNGAN
MENJADI PEJUANG LINGKUNGAN
Hari-hari ini dan hingga beberapa bulan yang akan datang, hujan akan senantiasa menyapa kita, dengan berbagai level dan volumenya, mulai dari rintik-rintik yang membikin kita malas keluar rumah, atau hujan deras yang membikin anak-anak bermain-main di tengah-tengah hujan dengan riang gembira, hingga hujan level badai yang membikin kita khawatir dan degdegan.
Namun semestinya, ketika kita sudah memasuki musim hujan seperti ini, maka yang paling relevan untuk dibicarakan adalah tentang musim panas yang akan datang, dengan berbagai macam tantangan dan dampaknya, seperti kekeringan, kebakaran hutan, dan sesamanya. Karena jika kita baru berbicara perihal menjaga lingkungan di musim hujan ketika musim itu sudah tiba, maka sepertinya kita tidak memiliki visi dan pandangan hidup kedepan.
Semestinya, segala dampak negatif yang bisa ditimbulkan oleh hujan, seperti banjir, longsor, gagal panen, penyakit, kebutuhan air bersih, dan sebagainya, sudah kita bicarakan dengan matang pada musim panas, ketika hujan masih belum turun. Sehingga ketika pembicaraan selesai, persiapan sudah matang. Lalu ketika hujan turun, kita sudah benar-benar siap dan tidak keteteran dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang diakibatkan oleh hujan itu.
Namun, meski demikian benar apa yang dikatakan pepatah, bahwa lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Karena itu, sekalipun kini kita sudah memasuki musim hujan, tentu tidak ada salahnya jika kita masih membicarakan hal-hal yang perlu kita lakukan untuk mengantisipasi dampak-dampak negatif yang mungkin ditimbulkan oleh hujan, daripada tidak sama sekali.
Tentu saja, tema yang paling relevan untuk kita bicarakan dalam kondisi mendesak seperti saat ini adalah hal-hal yang terkait dengan inisiatif-inisiatif kedaruratan, seperti mempersiapkan tim evakuasi, membersihkan lingkungan, memperdalam sungai dan waduk, dan hal-hal semacamnya. Jadi bukan membicarakan pembangunan bendungan atau penanaman pohon, karena itu jauh dari kata relevan untuk dibicarakan di musim hujan.
Membicarakan hal-hal yang sifatnya emergency di musim hujan ini sangat penting, karena dari situ diharapkan para pendengar atau para pembaca bisa melakukan langkah-langkah cepat yang perlu diambil ketika terjadi sesuatu. Semisal, ketika terjadi lahar gunung Semeru beberapa waktu yang lalu, kita bisa tanggap bahwa yang diperlukan oleh para warga terdampak adalah hadirnya tim evakuasi dengan peralatan lengkap, tenda-tenda darurat, makanan instan atau cepat saji, air bersih, pakaian, dan obat-obatan.
Dalam konteks terjadinya kedaruratan seperti itu, tentu kita bisa memilih peran sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita masing-masing. Kita bisa menyumbangkan uang, barang, bahkan tenaga atau pikiran. Namun tak kalah pentingnya, adalah keterlibatan kita dalam kerja-kerja yang tidak darurat, seperti membuang sampah pada tempatnya, rajin melakukan penghijauan lahan, tidak melakukan pengerusakan alam dalam skala sekecil apapun, dan semacamnya.
Semua peran yang kita ambil, sekecil apapun, telah menjadikan kita sebagai pejuang lingkungan.


