MERAWAT JIWA, MENGUATKAN RAGA: PENTINGNYA KESEHATAN MENTAL BAGI GENERASI MUDA
Kesehatan sejati bukan hanya soal fisik, tetapi juga jiwa. Keduanya saling terkait. Penyakit fisik dapat mengganggu mental, begitu pula gangguan jiwa bisa melemahkan tubuh.
Sayangnya, kesehatan mental masih sering terabaikan atau dianggap tabu. Padahal, tanda-tandanya bisa muncul dalam kehidupan sehari-hari, seperti menarik diri, sulit tidur, atau kehilangan nafsu makan.
Untuk menggali lebih jauh pentingnya menjaga kesehatan secara menyeluruh serta peran keluarga dan lingkungan dalam mendukungnya, Majalah PEDULI berbincang dengan dr. Taufik Ali Husni, Staf Medis Klinik Kesehatan Pondok Pesantren Sidogiri.
Mengapa penting bagi setiap orang untuk menjaga kesehatan secara menyeluruh, baik fisik maupun mental?
Dalam istilah kesehatan, yang lebih tepat disebut kesehatan fisik dan kesehatan jiwa. Keduanya satu kesatuan yang sama-sama penting untuk dijaga.
Jika seseorang mengalami penyakit fisik menahun seperti diabetes, hipertensi, atau stroke, apalagi di usia produktif, ia bisa mengalami stres karena tidak dapat bekerja. Akibatnya, keluarga terbebani anak kesulitan sekolah, kebutuhan sulit terpenuhi dan kesehatan jiwanya ikut terganggu.
Sebaliknya, gangguan jiwa juga berdampak pada kesehatan fisik. Orang dengan gangguan jiwa berat biasanya menarik diri dari lingkungan, sulit tidur, mengalami halusinasi atau ilusi, nafsu makan menurun, hingga tubuh menjadi kurus. Kesehatan fisik dan jiwa saling mempengaruhi: sakit fisik dapat mengganggu jiwa, dan gangguan jiwa dapat melemahkan fisik. Dalam ilmu kedokteran, keduanya sama-sama penting dan tidak bisa dipisahkan.
Apa saja tanda-tanda seseorang mengalami gangguan kesehatan mental, dan bagaimana kita sebagai masyarakat bisa membantu tanpa memberi stigma?
Tanda-tanda orang yang mengalami gangguan jiwa itu misalnya mulai menarik diri dari lingkungan, sulit tidur, nafsu makan berkurang, ada halusinasi atau ilusi, dan perilakunya berubah cukup mencolok. Nah, kita sebagai masyarakat bisa membantu dengan memberi dukungan, mau mendengarkan tanpa menghakimi, lalu diarahkan ke tenaga profesional. Yang penting, kita bangun rasa empati dan pemahaman, supaya mereka ini merasa aman untuk mencari bantuan dan tidak takut dengan stigma negatif.
Bagaimana peran keluarga dan lingkungan dalam menjaga serta mendukung kesehatan mental anggotanya?
Perannya sangat penting. Di keluarga, kepala keluarga harus memenuhi kebutuhan dasar seperti makan, pakaian, tempat tinggal, dan pendidikan sesuai kemampuan. Yang penting ada solusi, misalnya pendidikan bisa lewat jalur alternatif seperti kejar paket atau universitas terbuka. Kalau kebutuhan ini terpenuhi, kesehatan jiwa lebih terjaga.
Untuk lingkungan, peran pemimpin juga besar. Kalau di tingkat desa, misalnya, kepala desa sebaiknya membuat kebijakan yang pro-rakyat dan sesuai norma agama. Jangan malah membuat kegiatan yang mengganggu, seperti hiburan bising setiap hari atau tempat perjudian. Hal-hal seperti ini bisa mengganggu ketenangan warga. Kalau kebijakannya sesuai kaidah agama, insyaAllah masyarakatnya senang dan nyaman. Tapi kalau keluar dari itu, ya akhirnya banyak yang terganggu, termasuk kesehatan mentalnya.
Apa pesan dokter kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih peduli terhadap kesehatan mereka sendiri, termasuk tidak mengabaikan kondisi mental?
Pesan saya tidak banyak, Intinya kesehatan fisik dijaga dengan perilaku sehat, kesehatan mental dibentuk dengan tantangan dan diarahkan ke hal-hal positif. Tetap sekolah, jangan dibiarkan putus pendidikan. Dan yang terpenting, kita semua harus berpegang teguh pada agama dan menjalankan syariat, bukan hanya mengandalkan kecerdasan akal, agar jiwa dan mental tetap sehat.


