MENGAJAK DENGAN LEMBUTD AN KASIH SAYANG
MENGAJAK DENGAN LEMBUT DAN KASIH SAYANG
(وَاعْلَمْ) أَنَّ الأَخْذَ بِالرِّفْقِ وَاللُطْفِ, وإظهارِ الشَّفَقَةِ والرَّحْمَة عَلَيْهِ مَدَارٌ كَبِيرٌ عِنْدَ الأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ والنَّهْىِ عَنِ المُنْكَرِ, فَعَلَيْكَ بِه وَلاتَعْدِلْ عَنْهُ, مَا دُمْتَ تَرْجُو نَفْعُهُ وحُصُولُ المَقْصُودِ بِه.
“Ketahuilah bahwasanya bersikap lemah lembut dan menampakkan rasa kasih sayang mempunyai pengaruh besar dalam amar makruf dan nahi mungkar. Oleh kerana itu hendaklah engkau bersikap demikian dan jangan berpaling darinya selama engkau masih mengharapkan manfaat dan tercapainya tujuan amar makruf nahi mungkar.”
- An-Nashâih ad-Dîniyyah wal-Washâyâ al-Imâniyyah karya al-Imam al-Arif Billah Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Haddad al-Hadrami asy-Syafii.
Tentunya dakwah yang ideal adalah dengan cara yang santun, lemah lembut, serta penuh kasih sayang sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para penerusnya, walau di saat tertentu mengambil sikap tegas dan keras terkadang juga diperlukan.
Dalam amar makruf dan nahi mungkar ada beberapa tahapan; yang pertama adalah memberi tahu dan mengajak dengan lembut dan menampakkan kasih sayang. Kemudian yang kedua, menasehati dengan tegas. Kalau masih menolak, maka tahapan yang ketiga, mencegahnya dengan paksaan.
Tahapan yang pertama dan kedua adalah cara dakwah yang banyak dilakukan para da’i pada umumnya. Sedangkan tahapan yang ketiga hanya bisa dilakukan oleh para da’i yang betul-betul mengerahkan jiwa raga dan hartanya di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.
Namun demikian, dakwah dengan lemah lembut, membutuhkan teknik kesabaran dan ketulusan yang tidak mudah dan harus dimulai dari diri sendiri. Bahkan dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa tidak boleh menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar kecuali orang yang lemah lembut ketika menyuruh kepada yang makruf dan ketika mencegah dari yang mungkar.
Oleh karena itu, seharusnya bagi dai yang hendak mengajak kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar itu mengamalkannya dan meninggalkan apa yang mungkar tersebut terlebih dahulu. Amalkan terlebih dahulu, lalu sampaikan ke orang lain, tentu hal itu dapat membuat perkataannya lebih meresap dan berkesan ke dalam hati orang yang mendengarnya. Dakwah seperti inilah yang telah dicontohkan oleh salafus-saleh kita.
Sebaliknya berhati-hatilah bagi yang hanya pandai bicara dan berdalil, tapi tidak mengamalkannya. Sebab ada riwayat yang menyebutkan ancaman keras bagi orang yang menyuruh kepada kebajikan namun dia sendiri tidak melakukannya dan mencegah dari yang mungkar namun dia sendiri melakukannya, sebagaimana yang telah disebutkan pada pembahasan sebelumnya.
Dakwah dengan lembut dan kasih sayang Ini adalah sikap yang lebih baik dan lebih utama. Akan tetapi kewajiban amar makruf nahi mungkar ini tidak gugur walau belum mengamalkan. Setiap orang berkewajiban amar makruf nahi mungkar sekalipun dia tidak mengamalkan apa yang dia sampaikan. Sebab orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya dan tidak mengajarkan atau tidak memberitahukannya kepada orang lain adalah lebih hina dan lebih berat siksaannya daripada orang yang mengajarkan ilmunya namun tidak mengamalkan. Semoga kita termasuk orang yang bisa mengamalkan ilmu dan berdakwah di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.
(Jeki | Sidogiri Peduli)


