SAYYID MANSHUR BASYAIBAN, SAHABAT SYAIKHANA KHALIL BANGKALAN YANG IKUT BERJUANG MELAWAN JEPANG
Berdasarkan keterangan dari Syeikh Yasin Al Fadani, yang merupakan murid dari Sayyid Manshur Basyaiban ini menerangkan bahwa Sayid kelahiran Surabaya tahun 1302 H ini adalah seorang allamah, shalih, zuhud, da’I ilallah, serta mujahid dan syahid fi sabilillah.
Bernama lengkap Sayyid Manshur bin Mujahid bin Thalhah bin Mujahid bin Ali Asghar bin Ali Akbar Basyaiban yang merupakan keturunan Rasulullah ﷺ dari jalur Sayidina Husain.
Mulanya Sayyid Manshur belajar dan menghafal al-Quran di tanah Jawa lalu menguasai ilmu-ilmu bahasa Arab, fiqih dan ushul fiqih atas bimbingan Habib Abdullah bin Syeikh Bilfaqih dan lainnya. Lalu menuju Bangkalan Madura untuk belajar, bermulazamah serta mengambil tarekat dari Syaikhana Khalil, sehingga diantara keduanya terjalin persahabatan yang erat.
Kemudian Sayyid Manshur melakukan perjalanan ke Makkah dalam rangka melaksanakan ibadah haji selama beberapa kali. Bermukim di Makkah dan menuntut ilmu kepada beberapa ulama dan para sayid. Di antaranya adalah Syeikh Allamah Muhammad bin Sulaiman Hasbullah dan Syeikh Umar Bajunaid, mufti Makkah ketika itu.
Setelah menuntut ilmu di Makkah, Sayyid Manshur kembali ke Surabaya dan mendirikan masjid serta pesantren sebagai sarana mengajar, menyampaikan fatwa serta berdakwah.
Saat pasukan Jepang memasuki Pulau Jawa dan melakukan penjajahan, Sayyid Manshur adalah salah satu tokoh yang terang-terangan menggemakan perlawanan dan jihad terhadap para penjajah itu—yang akhirnya, pihak Jepang menangkap dan menahannya dalam penjara dengan berbagai siksaan hingga wafat pada tahun 1360 H.
~ Sumber: Kitab Tashfnif al-Asma’ (2/696, 697) karya Syeikh Mahmud Sa’id Mamduh, dan Buku Kiai & Habib, Tim Paragraf Sidogiri, Sidogiri Penerbit, 2024.


