PERSIAPKAN DIRI MENYAMBUT BULAN SUCI
Tidak lama lagi, kita dan umat Islam di seluruh dunia akan memasuki bulan suci Ramadhan, bulan yang senantiasa dirindukan dan dinanti-nantikan kehadirannya oleh umat Islam. Hal itu tak lain karena bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam, bersebab pintu ampunan Allah subhanahu wa ta’ala yang dibuka lebar-lebar pada bulan ini, dilipat-gandakannya amal-amal kebaikan, beserta sekian banyak keistimewaan yang lain, terutama malam Lailatul-Qadar, di mana pahala kebaikan yang dilakukan pada malam itu lebih baik daripada seribu bulan. Sungguh luar biasa.
Namun di samping pahala dan ampunan Allah, ada hal-hal lain yang membuat Ramadhan selalu dirindukan kehadirannya oleh umat Islam, yaitu karena Ramadhan menyuguhkan nuansa dan suasana yang istimewa, yang tidak bisa dijumpai terkecuali di bulan Ramadhan. Bagaimanapun, suasana masyarakat yang sangat hiruk-pikuk di bulan Ramadhan itu menjadi daya tarik tersendiri bagi umat Islam, seperti pasar Ramadhan, bagi-bagi takjil di jalanan kepada para musyafir, dan bahkan kemeriahan suasana hari raya Idul Fitri yang sungguh luar biasa.
Bagaimanapun, merasa senang dan bergembira dengan kehadiran bulan suci Ramadhan adalah bagian dari tanda-tanda keimanan seseorang, dan karena itu hal demikian harus senantiasa tumbuh di dalam sanubari umat Islam. Namun yang perlu diperhatikan adalah, jangan sampai kita keliru sasaran dalam melabuhkan kerinduan kita ini, karena kesalahan dalam hal ini bisa mempengaruhi terhadap hasil yang akan kita capai nantinya; apakah kita akan termasuk orang yang beruntung ataukah sebaliknya: termasuk orang yang merugi selepas Ramadhan – Na’udzubillah min dzalik.
Kita akan termasuk orang-orang yang beruntung selepas Ramadhan apabila kita merindukan Ramadhan dengan benar, yaitu kita rindu disebabkan Ramadhan adalah bulan suci, bulan penuh ampunan, bulan dibukanya pintu rahmat, dan bulan dibebaskannya kita dari neraka. Nah, jika kita merindukan Ramadhan karena hal ini, maka tentu kita akan bersungguh-sungguh dalam mengisi hari-hari dan malam-malam Ramadhan ini dengan memperbanyak ibadah, melakukan amal-amal kebaikan semaksimal mungkin, serta menjauhi segala sesuatu yang menyebabkan murka Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga pada akhirnya, kita akan menjadi orang yang beruntung.
Beda halnya jika kita merindukan Ramadhan hanya karena nuansa sosialnya saja; karena ada kemeriahan pasar Ramadhan, ada banyak jajanan takjil, ada banyak orang yang berseliweran ketika ngabuburit, dan semacamnya, maka tentunya kita akan dipalingkan dari memperbanyak ibadah, sedekah, dan segala amal kebaikan di dalam Ramadhan, akan tetapi justru kita akan larut dalam berbagai hiburan, kemeriahan, jalan-jalan, dan main-main belaka, sehingga kita tidak akan memperoleh banyak pahala dan ampunan, tapi malah memperoleh banyak dosa – Na’udzubillah min dzalik.
Karena itu, marilah kita semua merindaukan Ramadhan dengan benar, sehingga kita bisa menjalaninya dengan benar pula, sehingga selepas Ramadhan kita menjadi orang-orang yang beruntung. Amin ya Rabbal ‘alamin.


