KEPEDULIAN SOSIAL BAGINDA NABI
Sebagaimana sudah maklum, bahwa Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah pribadi yang harus diteladani oleh umat Islam dalam seluruh sisi kehidupan beliau, baik dalam urusan agama, rumah tangga, sosial, politik, negara, ekonomi, tradisi, dan lain sebagainya. Sebab, di antara maksud dari diutusnya Baginda Nabi memang agar menjadi teladan bagi umat Islam, di samping sebagai rahmat bagi sekalian alam.
Nah, pada bulan Maulid yang merupakan ulang tahun bagi kelahiran Baginda Nabi ini, kiranya sangat pas jika kita kembali mengangkat salah satu keteladanan beliau, agar bisa kita pelajari dan kita ikuti jejak langkah beliau. Sedangkan salah satu keteladanan yang penting untuk kita terapkan pada zaman ini adalah keteladanan beliau di ranah sosial, dalam hubungannya antara beliau dengan orang-orang disekitarnya.
Sebagai pribadi sempurna, tentu saja keteladanan sosial dari Baginda Nabi ini sudah kita temui jauh sebelum beliau diangkat menjadi seorang utusan. Di tengah-tengah masyarakat Jahiliah yang rusak, Baginda Nabi sudah menjadi pelita yang menerangi kegelapan di sekelilingnya, bahkan sebelum beliau diutus menjadi seorang nabi. Pada saat itu, beliau dikenal suka menolong orang-orang yang lemah, membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan, selalu menyayangi orang-orang fakir miskin, anak-anak yatim, dan para janda duafa.
Beliau juga terkenal sebagai pribadi yang jujur, sehingga semua orang menjuluki beliau “al-Amin”, yakni seorang yang terpercaya. Karena itu, orang-orang banyak memberikan kepercayaan kepada beliau, baik dalam soal harta benda maupun yang lain. Ketika beliau melakukan perniagaan, beliau selalu sukses karena kepercayaan masyarakat. Bahkan ketika di tengah-tengah masyarakat terjadi persoalan pelik, seperti tentang peletakan Hajar Aswad yang sangat prestisius, mereka pun mempercayakan kepada beliau untuk memutusi urusan tersebut, dan beliau pun memberikan keputusan yang bisa diterima oleh semua kalangan.
Kemudian, ketika beliau sudah diangkat menjadi seorang utusan, keteladanan sosial beliau tidak berubah, bahkan semakin meningkat kualitas dan kuantitasnya. Buktinya, beliau tetap berbuat baik kepada orang-orang kafir yang menolak ajakan atau dakwah beliau untuk masuk Islam. Bahkan ketika mereka terus menyakiti Baginda Nabi, beliau tetap berbuat baik kepada mereka. Contohnya, ketika orang yang rutin meludahi Nabi itu ternyata sakit, Baginda Nabi malah menjadi orang pertama yang menjenguk orang kafir itu, dan karena itulah kemudian si kafir itu masuk Islam.
Dalam soal kedermawanan, Baginda Nabi tidak ada tandingannya. Beliau sangat dermawan terutama kepada orang-orang yang tidak mampu. Bahkan, kedermawanan beliau ini diakui oleh orang-orang kafir sendiri, sehingga salah satu pimpinan orang kafir itu mengatakan kepada kaumnya, bahwa Baginda Nabi itu sangat dermawan dan tidak takut fakir sama sekali, karena ketika memberi beliau tidak perhitungan. Semua ini tentu sangat penting untuk kita teladani dan kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.


