JANGAN MENCARI-CARI KEBURUKAN ORANG LAIN
JANGAN MENCARI-CARI KEBURUKAN ORANG LAIN
وكذلك فاحذروا من التجسُّس, وهو طلب الوقوف على عورات الناس المستورة
قال الله تعالى وَلاَ تَجَسَّسُوْا ) سورة الحجرات:١٢(
وقال عليه الصلاة والسلام: من تتبع عورة أخيه تتبع الله عورته, ومن تتبع عورته يفضحه ولو في جوف بيته..(الحديث.-رواه الترمذي وابن حبان )
Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad berkata, “Hendaklah kalian menghindari tajassus, yakni mencari-cari kesalahan dan aib orang lain yang sudah ditutupi oleh pelakunya. Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain.” (QS. Al-Hujurat: 12).
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mencari-cari keburukan saudaranya, maka Allah akan membuka keburukannya, dan barangsiapa yang oleh Allah dibuka keburukannnya, maka Allah mempermalukannya sekalipun keburukan itu di dalam rumahnya sendiri.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban).
An-Nashâih ad-Dîniyyah wal-Washâyâ al-Imâniyyah karya al-Imam al-Arif Billah Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Haddad al-Hadrami asy-Syafii.
Walaupun dari awal kita diperintah untuk amar makruf nahi mungkar, bukan berarti kita bebas untuk membuka kesalahan dan keburukan pelaku kemaksiatan tersebut. Tentu ada etika yang telah diatur oleh syariat, karena tujuan amar makruf nahi mungkar adalah menghenentikan kemungkaran dan menebarkan kebaikan.
Oleh karena itu, Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad kemudian menekankan dengan wejangannya, “Hendaklah kalian selalu menutup keburukan orang-orang Islam, tidak menyebut-nyebutnya dan tidak menyebarluaskannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (QS. An-Nur: 19).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menutup (keaiban) seorang Muslim, maka Allah pasti menutupi aibnya di dunia dan di akhirat.” (Hadits shahih riwayat Imam Muslim, Abu Daud, at-Tirmidhi, an-Nasa&backquote;i dan Ibnu Majah).
Menurut beliau, “Janganlah membicarakan dan membuka kesalahan dan aib orang lain, kecuali orang-orang munafik yang dimurkai. Karena kewajiban seorang Muslim apabila melihat suatu keburukan saudaranya sesama Muslim adalah menutupinya, disamping menasihatinya secara rahasia dengan lemah lembut dan kasih sayang. Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Dan Allah selalu menolong hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (Hadits shahih riwayat Imam Muslim dan lainnya).
Beliau menegaskan bahwa seorang mukmin yang bertakwa tidak akan berkata sembarangan dan tidak mengatakan selain kebenaran. Bukan menurut kepentingan dan seleranya sendiri. Banyak orang-orang di masa kini saling menyampaikan kabar yang tidak jelas kebenarannya. Oleh karena itu, marilah setiap kita yang mukmin hendaknya selalu berhati-hati dalam menyikapi semua urusan, terutama dari apa yang didengarnya dari banyak media.
Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala, &doublequote;Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing yang lain. Apakah di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang.&doublequote; (QS. Al-Hujurat: 12).
*MM


