HAJI TERAKHIR RASULULLAH ﷺ: MENYEMBELIH SENDIRI 63 EKOR HEWAN QURBAN

Apr 25, 2026 - 11:26
 0  5
HAJI TERAKHIR RASULULLAH ﷺ: MENYEMBELIH SENDIRI 63 EKOR HEWAN QURBAN

Di bawah terik matahari Mina, 10 Zulhijah tahun 10 Hijriah, suasana terasa berbeda. Itu adalah haji terakhir Rasulullah ﷺ—yang kemudian dikenal sebagai Haji Wada. Setelah wukuf di Arafah dan bermalam di Muzdalifah, beliau menuju Mina untuk melontar jumrah dan menunaikan ibadah kurban.

Sahabat Anas bin Malik meriwayatkan—Sebagaimana dalam Syariatullah al-Khalidah” karya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Rasulullah ﷺ berkurban dengan dua ekor kambing kibas yang putih dan bertanduk. Beliau menyembelihnya dengan tangan beliau sendiri. Kakinya diletakkan di sisi leher hewan itu, lalu terdengar kalimat yang menggetarkan jiwa, “Bismillāhi Allāhu Akbar. Allāhumma hādzā minka wa laka.” Dengan nama Allah ﷻ, Allah ﷻ Mahabesar. Ya Allah, ini dari-Mu dan untuk-Mu. Riwayat ini tercantum dalam hadis shahih, Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.

Namun di Mina hari itu, bukan hanya dua kambing yang disembelih. Dalam riwayat panjang dari Jabir bin Abdillah yang juga termaktub dalam Sahih Muslim, Rasulullah ﷺ menyembelih 63 ekor unta dengan tangan beliau sendiri. Angka itu seakan menjadi isyarat usia beliau saat kelak wafat—63 tahun. Setiap sembelihan bukan sekadar ritual, melainkan ketundukan total kepada Allah ﷻ dan kasih sayang kepada umat.

Setelah 63 ekor unta, penyembelihan dilanjutkan oleh sepupu sekaligus menantunya, Sayidina Ali bin Abi Thalib, hingga genap 100 ekor. Darah yang mengalir di tanah Mina menjadi saksi kepasrahan seorang Nabi yang telah menuntaskan risalahnya.

Qurban Rasulullah ﷺ bukan hanya tentang jumlah hewan, melainkan tentang makna persembahan cinta dari hamba kepada Tuhannya, dari pemimpin untuk umatnya.

~ Sumber: Fath al-Bārī bi Syarh Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Syarah Kitab al-Adhahi, 10/ halm.9–20. Dar al-Ma‘rifah, Beirut.1379 H. dll.

(Jeki/Peduli)

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow

Zainuddin Muslih, S.Pd verified-symbol "Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis." ― Abu Hamid Al-Ghazali