CINTA RASULULLAH KEPADA SAYYIDAH KHADIJAH DENGAN TETAP MENYAMBUNG SAUDARA DAN SAHABATNYA
Rasulullah sangat mencintai dan menghormati istri pertamanya, Sayidah Khadijah binti Khuwailid yang telah menemaninya dalam suka duka selama 25 tahun. Saat wafatnya, Rasulullah sangat berduka, sehingga tahun itu dikenal sebagai Amul Huzni (Tahun Dukacita).
Penghormatan dan cinta sejati ini tidak diukur saat masa bersama saja, bahkan pasca kepergian sang istri tercinta.
Saking besar cinta Rasulullah kepada Sayyidah Khadijah, sampai-sampai Sayyidah Aisyah mengatakan dalam Shahih Bukhari, “Tidak pernah aku merasa cemburu kepada seorang pun dari isteri-isteri Rasulullah seperti kecemburuanku terhadap Khadijah. Padahal aku tidak pernah melihatnya”.
Rasulullah seringkali menyebut-nyebutnya. Jika ia memotong seekor kambing, ia potong-potong dagingnya, dan mengirimkannya kepada sahabat-sahabat Khadijah sebagai sedekah atau hadiah atas nama Khatijah.
Rasulullah sangat antusias menyambung dengan para sahabat dan saudara Sayyidah Khadijah. Suatu hari saudari Khadijah bernama Halah, datang ke Madinah. Baginda pun langsung mengenalinya, walaupun baru mendengar suaranya saja.
Suatu saat Baginda berada di rumah Sayyidah Aisyah dikunjungi seorang perempuan tua. Beliau menyambut dan memuliakan perempuan tua tersebut, bahkan menggelar sorbannya untuk tempat duduk tamu itu, hanya karena perempuan tua itu bersahabat dan pernah mengunjungi Sayyidah Khadijah.
Demikianlah, Rasulullah senantiasa mengingat dan menyambung persahabatan dengan para sahabat Khadijah, hingga Baginda berpesan kepada puteri-puteri beliau agar terus menjalin hubungan atau mengirimkan hadiah kepada mereka.
~ Disarikan dari Kitab Rahiqul-Makhtum dan berbagai sumber


