BELAJAR DARI LUQMAN HAKIM, AYAH HARUS PERHATIAN TERHADAP ANAK-ANAKNYA
Tak kalah penting daripada perhatian seorang ibu terhadap putra-putrinya, peran perhatian ayah terhadap anak-anak juga diperlukan. Seperti halnya peran Luqman Hakim yang telah diabadikan dalam al-Quran, Surat Luqman dari ayat 12 hingga 19 yang menggambarkan perbincangan seorang ayah dengan putranya yang penuh kasih sayang. Sarat dengan pendidikan dan hikmah. Selain menekankan ibadah kepada Allah, Luqman juga mendidik sikap yang harus dimiliki seorang manusia di hadapan manusia yang lain.
Dalam tafsir al-Baghawi disebutkan bahwa Luqman al-Hakim adalah seorang yang dikaruniai hikmah yakni kesempurnaan akal, keselarasan ilmu amal. Namanya Luqman bin Na’ur bin Nakhuz bin Tarih (Azar). Dalam salah satu riwayat, beliau merupakan keponakan Nabi Ayub Mulanya beliau menjadi mufti bagi Kaum Bani Israil sebelum hadirnya Nabi Dawud.
Konon Luqman yang berasal dari Habsyah dan berprofesi sebagai penjahit atau pengembala domba ini diberi pilihan antara menjadi seorang Nabi atau Hakim (orang yang bijak), lalu beliau memilih sebagai al-hakim dengan argumen yang menakjubkan para malaikat ketika itu.
Di dalam Ayat 12, Luqman berpesan kepada anaknya tentang pentingnya rasa syukur kepada Allah. Di dalam ayat berikutnya, dia berpesan agar menjaga ketauhidan Jangan sampai menyekutukan Allah. Lalu ayat ke 14 dan 15, Luqman berpesan agar berbakti kepada orangtua, terutama ibu yang telah susah payah mengandung, melahirkan, menyusui, dan merawatnya.
Pada poin ini, Imam Sufyan bin ‘Uyaynah berkata, “Siapa yang melaksanakan shalat lima waktu maka ia telah bersyukur kepada Allah. Sedangkan siapa yang mendoakan kedua orangtua setiap selesai shalat tersebut, makai ia telah berbakti kepada kedunya.”
Lalu dalam ayat ke 16, Luqman mengajarkan tentang balasan semua amal yang dikerjakan sebesar atau sekecil apapun. Lalu dalam ayat berikutnya, Luqman berpesan tentang pentingnya shalat, berdakwah, amar ma’ruf nahi mungkar, dan bersabar atas segala musibah sebagai konsekwensi dari dakwahnya.
Adapun dalam Surat Luqman ayat 18, beliau berpesan kepada anaknya agar jangan bersikap sombong dan angkuh.
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Luqman : 18)
Disinilah Luqman menanamkan pendidikan akhlak; rendah hati dan larangan sombong. Tidak boleh seseorang merendahkan orang lain karena perbedaan strata ekonomi, warna kulit, suku dan perbedaan lainnya.
Sedangkan dalam ayat ke- 19 dari Surat Luqman, beliau memberi pesan: “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”
Dalam Tafsir al-Baghawi dan Jalalain, perintah sederhana dalam berjalan ini ditafsirkan sebagai sikap tengah-tengah, atau tidak berjalan terlampau cepat juga tidak lambat. Tetapi berjalan dengan anggun dan tenang. Adapun suara keledai berarti suara meringkik dan melengking. Suara keras yang tidak enak didengar sebagaimana suara penduduk Neraka.
Demikianlah Luqman al-Hakim dengan penuh sentuhan mendidik putranya dari hati ke hati—yang mengajarkan bahwa orang tua harus dekat dengan anaknya, penuh perhatian, tapi juga harus tegas manakala berkaitan dengan batas-batas yang tidak boleh dilanggar.
(Jeki | Peduli)


