PERAN ORANG TUA DALAM MENDIDIK AKHLAK ANAK
Imam Al-Ghazali (1058-1111 M) seorang psikolog Islam yang sangat berpengaruh mengemukakan urgensi para orang tua dalam membentuk karakter anak sejak usia dini. Al-Ghazali memiliki konsep-konsep yang relevan dengan psikologi atau psikoterapi Islam. Khususnya Konsep Jiwa (Nafs) dan Kesehatannya yang berkaitan erat dengan keimanan dan ketakwaan.
Di Dalam Kitab Ihya Ulumiddin, Imam Al-Ghazali memandang jiwa anak-anak seperti kertas kosong tanpa coretan dan garis apapun. Jiwa anak-anak siap ditulis dan akan menerima model tulisan apapun yang tercermin dalam jiwanya. “Ketahuilah cara mendidik anak termasuk masalah yang paling penting dan paling urgen. Anak merupakan amanah bagi kedua orang tuanya. Hati mereka suci, bersih dari segala gambaran dan rupa. Hati anak-anak menerima setiap penggambaran ajaran yang diberikan kepada mereka.”
Ada dua poin penting dari Al-Ghazali sebagai pendekatan mendidik anak di usia dini. Pertama, orang tua harus membiasakan atau memberikan contoh perbuatan baik dalam kesehariannya. Kedua, disaat yang lain orang tua harus mengajarkan kebaikan itu kepada anaknya. Jadi ada dua penekanan; menncontohkan dan mengajarkan.
Pembiasaan kebaikan dari orang tua akan membekas dalam jiwa anak. Sedangkan pengajaran kebaikan kepada anak akan menanamkan nilai-nilai kebaikan itu sendiri.
Al-Ghazali mengatakan, “Jika orang tua membiasakan dan mengajarkan kebaikan, maka anak akan tumbuh dalam kebaikan, sehingga bahagialah orang tuanya di dunia dan akhirat. Ia akan mendapat pahala dari amal baik anaknya. Demikian juga bagi setiap guru dan pendidik. Jika ia membiasakan keburukan dan membiarkan anaknya seperti membiarkan binatang ternak, maka ia akan celaka dan binasa, dan dosanya juga ditanggung pengasuh da orang tuanya,”
Dalam kajian ini, al Imam Al-Ghazali mengingatkan kita sebagai orang tua untuk lebih memperhatikan pendidikan, bimbingan terhadap anak-anak kita. Orang tua jangan sampai mengabaikan hal ini dengan hanya berpasrah kepada para guru di sekolah.


