ABDURRAHMAN BIN AUF: PEDAGANG SUKSES YANG RELA BERKORBAN
Seperti dinarasikan kitab al-&singlequote;Asyratu al-Mubasysyaruna bil-Jannati karya Abdullatif Ahmad &singlequote;Asyur, Abdurrahman telah teguh hatinya berjuang di jalan Allah. Ia mengorbankan harta benda serta jasadnya untuk kejayaan Islam.
Ketika peristiwa hijrah ke Madinah, Abdurrahman meninggalkan seluruh harta dan aset perdagangannya dirampas kaum kafir Quraisy di Makkah. Begitu pula sebelumnya, ketika ia ikut dalam rombongan Muslim hijrah ke negeri Habasyah.
Namun, kepergiannya dari kampung halaman belakangan menunjukkan kepiawaiannya berniaga. Selama di Madinah, Abdurrahman merintis perniagaan keju dan minyak samin. Tidak membutuhkan waktu lama, laba perdagangan kian meningkat. Di Madinah, kaum Muslimin dari kalangan Anshar, terutama Muhajirin, mulai bangkit dari keterpurukan. Tidak ada di antara mereka yang menganggur dari pekerjaan.
Besarnya kafilah dagang Abdurrahman digambarkan dalam riwayat Imam Ahmad dari Anas RA. Ketika Aisyah RA sedang di rumahnya, ia mendengar suara gaduh menggema di Kota Madinah. Aisyah bertanya, &doublequote;Apa itu?&doublequote; Maka dijawab, &doublequote;(Itu) kafilah unta milik Abdurrahman yang tiba dari Syam, membawa segala macam barang sebanyak 700 unta.&doublequote; Aisyah berkata, &doublequote;Aku pernah mendengar Nabi SAW bersabda, &singlequote;Aku lihat Abdurrahman memasuki surga dengan merangkak.&doublequote;
Kesaksian Aisyah itu akhirnya sampai kepada Abdurrahman, yang lantas menyedekahkan muatannya itu untuk berjihad di jalan Allah. Ia tidak ingin harta bendanya memperlambat langkah kakinya kelak ketika memasuki surga. Sebab, setiap orang Muslim akan dimintai pertanggungjawaban mengenai setiap harta benda yang dimilikinya di dunia.
Ketika perniagaannya sudah berkembang pesat, Abdurrahman diberi anjuran oleh Nabi SAW, “Wahai Abdurrahman, kamu sekarang menjadi orang kaya dan kamu akan masuk surga dengan merangkak. Pinjamkanlah hartamu kepada Allah agar lancar kedua kakimu”. (HR Al-Hakim).


