YATIM PIATU YANG RUTIN JUARA
YATIM PIATU YANG RUTIN JUARA
Saipul Rohman, Anak Asuh di DAS Surabaya
Sejak usia dua tahun, Saipul Rohman sudah ditinggal wafat oleh kedua orang tuanya, sehingga di usia yang sekecil itu dia sudah menyandang status yatim piatu. Dengan tanpa kasih sayang ayah bundanya, almarhum Bapak Ma&singlequote;on dan almarhumah ibu Siti Sumayya, membuat Saipul tumbuh dengan kurang kasih sayang dan perhatian. Hanya perhatian dari famili dan tetangga yang peduli padanya. Padahal Saipul tergolong anak yang cerdas, tapi nasib telah merenggut kebahagiaannya tidak sebagaimana anak-anak kecil seusianya. Yatim-piatu ini pun tidak sempat sekolah di sekolah formal maupun madrasah diniyah dengan didampingi orang tuanya seperti teman-teman sebayanya.
Beruntung sekali, yatim piatu kelahiran Sampang, 27 Juni 2009 ini kemudian mendapatkan beasiswa pendidikan ke DAS (Darul Aitam Sidogiri) Surabaya sejak tahun ajaran 1442-1443 H. Setiba di DAS Surabaya, Saipul yang terbiasa hidup menyendiri, kini mempunyai banyak teman sebaya sepermainan. Ia bisa bersenda gurau dan bermain bersama teman-teman barunya. Para asatidz dan pengurus DAS juga selalu stand by menjaga dan mengurus Saipul dan anak-anak yatim lainnya, bahkan menemani mereka bermain dan bersenda gurau, mengisi posisi orang tua sekaligus teman bermain bagi mereka.
Berkat arahan dan didikan para ustadz dan pengurus, Santri kecil dari kampung Batorasang Tambelangan Sampang ini begitu berprestasi. Walau baru masuk di kelas Sifir Madrasah Dinyiah, Saiful langsung menjadi juara kelas di setiap ujian. “Saya bahagia di sini mempunyai banyak teman dan para ustadz yang baik, menemani dan mendidik saya dan teman-teman, sehingga saya dan teman-teman juga merasa menemukan keluarga baru di sini. Para ustadz selalu memotivasi kami agar giat belajar, sehingga saya bisa juara kelas setiap ujian madrasah.” tutur Saipul kepada koresponden majalah PEDULI.
(Jeki/Peduli)


