Bekali Guru Pesantren Binaan dengan Metode Al-Miftah Sidogiri
Pusat,- Sabtu-Senin (11-13/01/20) LAZ Sidogiri bekerjasama dengan Madrasah Miftahul Ulum (MMU) I’dadiyah Sidogiri, memberikan pelatihan mengajar dengan metode Al-Miftah kepada 3 guru lembaga pendidikan binaan LAZ Sidogiri di Lombok. Lembaga tersebut ialah Pondok Pesantren Warosatul Anbiya, asuhan TGH. Abdussyakur.
PP. Warosatul Anbiya didirikan sejak pertengahan tahun 2019, di Desa Sisik Lombok Tengah atas prakarsa ulama dan tokoh masyarakat setempat. Diharapkan pondok pesantren ini akan menjadi tumpuan masyarakat Lombok tengah, khususnya desa sisik untuk merekonstruksi Pendidikan anak- anak pasca dilanda bencana gempa. Saat ini tidak kurang dari 150 santri aktif belajar di PP. Warosatul Anbiya.
Ahmad Jamali S.E.I selaku officer program support LAZ Sidogiri memaparkan, didirikannya Pondok Pesantren ini adalah satu di antara upaya LAZ Sidogiri untuk membantu masyarakat Lombok secara kontinu. “Pasca gempa parah beberapa bulan lalu banyak institusi yang hancur, termasuk Lembaga Pendidikan. Dengan adanya pondok pesantren ini, insyaalloh anak-anak tidak akan dimudahkan untuk mendapat Pendidikan yang baik.” Terang Jamali.
Adapun mengenai pelatihan metode Al-Miftah, Jamali menambahkan bahwa ini adalah langkah LAZ Sidogiri untuk meningkatkan kualitas Pendidikan di PP. Warosatul Anbiya. “Metode al-miftah sidogiri telah terbukti berhasil mencetak santri yang berkompeten dalam pemahaman kitab kuning, harapan kami metode ini juga bias diterapkan di PP. Warosatul Anbiya untuk meningkatkan mutu Pendidikan di sana,” ucapnya.
Selama mengikuti kursus yang diadakan di Gedung Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) Pasuruan tersebut, peserta dibekali pemahaman materi pengajaran, praktek tanya-jawab, serta evaluasi bagi peserta didik. Di akhir pertemuan seluruh peserta diajak berkeliling di Pondok Pesantren Sidogiri, untuk menyaksikan secara langsung kegiatan belajar-mengajar dengan metode Al-Miftah. Mereka juga berkesempatan untuk menyoal para santri I’dadiyah secara langsung seputar kitab kuning.
Ustadz. Tauhid salah satu delegasi yang mengikuti pelatihan menyatakan, bahwa ia merasa sangat terkesan dengan metode Al-Miftah. Dengan metode ini anak usia sekolah dasar dapat memahami isi kitab kuning, hanya dengan waktu satu tahun saja. “Di tempat kami belajar enam tahun, itu kadang masih belum paham nahwu-shorrof (gramatika arab), tapi di sini satu tahun saja sudah paham. Semoga nanti kami di sana bisa menerapkannya,” ujar tauhid.
==
Ahmad Fauzi/SP


