MASUK SURGA KARENA SELAMATKAN KUCING KEDINGINAN
Jasad seorang ulama Sufi, Abu Bakar asy-Syibli, memang sudah terkubur sejak Tahun 946 silam. Tapi nasihat santri Imam Junaid al-Baghdadi ini seakan terus mengalir hingga kini. Imam Abu Bakar as-Syibli lahir pada 247 Hijriyah di Baghdad di Kota Syibli di wilayah Khurasan, Persia. As-Syibli hidup hingga usia 87 tahun, dan wafat pada tahun 334 Hijriyah, dan dimakamkan di Baghdad. Imam Abu Bakar as-Syibli punya kisah hikmah yang terkenal.
Salah satunya kisah dalam mimpi, sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi al-Bantani. Dalam sebuah mimpi seseorang, Imam asy-Syibli yang telah wafat itu ditanya Allah, “Kamu tahu, apa yang membuat-Ku mengampuni dosa-dosamu?"
"Amal shalihku." "Bukan."
"Ketulusanku dalam beribadah." "Bukan."
"Hajiku, puasaku, shalatku." "Juga bukan."
"Perjalananku kepada orang-orang saleh dan untuk menimba ilmu." "Bukan."
"Ya Ilahi, lantas apa?" tanya asy-Syibli.
Kemudian Allah menjelaskan bahwa ia mendapat rahmat-Nya berkat peristiwa pertemuannya dengan seekor kucing di jalan.
Suatu hari, kota Baghdad diguyur hujan yang sangat lebat. Saat itu, asy-Syibli hendak pulang ke rumahnya. Di tengah perjalanan, beliau bertemu dengan seekor kucing kecil yang tampak meringkuk kedinginan di sebuah sudut. Kondisinya begitu lemas dan tampak sangat kelaparan
Tak tega melihat kondisi kucing kecil itu, Sang Imam mengambil kucing kecil tersebut dan menghangatkannya di dalam jubahnya. Kemudian beliau membawanya pulang.
Sesampainya di rumah, Sang Imam langsung menyiapkan makanan untuk kucing tersebut. Sang Imam juga mengeringkan tubuhnya yang basah terkena hujan, kucing itu dihangatkan dengan diselimuti sehelai kain.
"Karena kasih sayang serta kebaikanmu terhadap kucing tersebut, Aku memberikan kepadamu rahmat-Ku.” Kata Allah kepadanya.
Kisah ini mengandung pesan hikmah di dalamnya, bahwa dibukanya pintu surga bagi seseorang tidak hanya melalui ibadahnya saja. Tetapi melalui kebaikan dan kasih sayang kepada sesama makhluk-Nya.
~ Sumber: Nashaihul Ibad, karya Syekh Nawawi al-Bantani


