MENOLONG SAUDARA YANG DZALIM ATAU TERDZALIMI

Okt 25, 2025 - 17:03
 0  183
MENOLONG SAUDARA YANG DZALIM ATAU TERDZALIMI

قال عليه الصلاة والسلام: انْصُرْ أخاكَ ظالِماً أوْ مَظْلُوماً. فقالَ رَجُلٌ: يا رَسولَ اللَّهِ، أنْصُرُهُ إذا كانَ مَظْلُوماً، أفَرَأَيْتَ إذا كانَ ظالِماً كيفَ أنْصُرُهُ؟ قالَ: تَحْجُزُهُ -أوْ تَمْنَعُهُ- مِنَ الظُّلْمِ؛ فإنَّ ذلكَ نَصْرُهُ. (رَوَاهُ البخاري )

Rasulullah ﷺ bersabda, “Tolonglah saudaramu yang berbuat dzalim atau terdzalimi. Lalu seseorang sahabat bertanya, Ya Rasulullah! Saya bisa menolong saudara yang terdzalimi, tapi bagaimana cara saya menolong saudara yang dzalim? Rasulullah bersabda, cegah dan hindarkan dia dari kedzaliman itu. Sesungguhnya Itulah cara menolong dia dari kedzalimannya .” (HR. Bukhari).

***

Al-Imam as-Sayyid Abdullah bin Alwi al-Haddad mengulas pembahasan yang unik dan indah dari sisi resiko sebuah persahabatan. Dimana kalau sudah terbina persahabatan, segala risiko, hak, dan kewajiban harus senantiasa dipenuhi, termasuk siap sedia menolong sahabat yang terpuruk dalam kedzaliman atau perbuatan yang melanggar syariat lainnya. Dalam kondisi yang demikian, kita harus tetap sedia menolong sahabat, bukan meninggalkan dan membiarkannya dalam kesesatan. Beda halnya dengan saat kita baru memulai atau mencari seorang sahabat, harus selektif sebagaimana diulas pada pembahasan sebelumnya.

 Dalam sebuah hadits dari Sahabat Anas radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim atau yang dizalimi.”

Lalu ada seseorang sahabat bertanya bagaimana cara menolong orang yang berbuat dzalim? Beliau menjawab, “Kamu cegah dan hindarkan dia dari berbuat dzalim, maka sesungguhnya hal itu telah menolongnya.” (HR. Bukhari).

Betapa indahnya sabda Baginda Rasulullah ﷺ. Indah dari segi tata bahasa dan makna.  Sebagai sahabat, kita diwajibkan untuk menolong saudara-saudara kita, bahkan yang berbuat dzalim, bukan dengan membenci dan meninggalkannya, karena dia sudah menjadi sahabat kita. Kita harus membenci kedzalimannya tapi tidak boleh membenci pelakunya. Saking indahnya, oleh Rasulullah masih tetap disebut dengan sebutan ‘saudaramu’.

Cara pandang seorang sahabat terhadap saudaranya yng sedang berbuat dzalim dengan rasa iba dan kasih sayang karena ia  terjerumus dalam kedzaliman dan kesesatan—yang berarti kalau dibiarkan akan terjerumus ke dalam siksa api neraka yang pedih. Relakah sahabat dan saudara kita menderita demikian..! 

Bahkan Rasulullah ﷺ tidak rela membiarkan umatnya—yang tetap kafir—seaakan akan hendak membinasakan dirinya sendiri lantaran kedukaan dan kesedihan akibat penolakan umatnya terhadap al-Quran dan ajakan Rasulullah ﷺ.  (tafsir QS. Al Kahfi: ayat 6)

~ Sumber: Pengajian Kitab An-Nashâih ad-Dîniyyah wal-Washâyâ al-Imâniyyah karya al-Imam al-Arif Billah Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Haddad al-Hadrami asy-Syafii

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow

Zainuddin Muslih, S.Pd verified-symbol "Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis." ― Abu Hamid Al-Ghazali