MELAWAN GERAKAN DEFORESTASI
Saat ini kita tengah memasuki musim penghujan kembali, dan sebagaimana biasa, banjir terjadi di mana-mana.
Saat ini kita tengah memasuki musim penghujan kembali, dan sebagaimana biasa, banjir terjadi di mana-mana. Namun ironisnya, justru yang paling parah adalah yang terjadi di Kalimantan. Diberitakan bahwa banjir besar menggenangi hampir seluruh wilayah di Kalimantan, merata, bahkan di sebagian wilayah, banjir menggenangi pemukiman warga selama sebulan lebih.
Barangkali kita bertanya-tanya, bagaimana bisa di Kalimantan justru terjadi banjir ekstrem belakangan ini, padahal Kalimantan adalah wilayah yang sebagian besarnya adalah hutan? Tentu, keberadaan hutan bisa mencegah terjadinya banjir, di samping bisa menjaga stabilitas ekosistem alam; tidak terjadi pemanasan yang berlebih, terlindunginya satwa di dalam hutan sehingga tidak mengganggu tanaman dan para penduduk, dan lain sebagainya.
Namun kejanggalan itu akan segera sirna ketika kita tahu bahwa sudah sejak lama terjadi proses deforestasi secara besar-besaran di Kalimantan, di mana hutan-hutan diduga sengaja dibakar, dan tidak lama kemudian dijadikan perkebunan sawit. Tampaknya, usaha deforestasi ini belum berhenti hingga saat ini, dan tindakan yang diambil oleh aparat penegak hukum terhadap para pengembang juga sangat letoy.
Tentu hal ini sangat mengecewakan, di samping juga sangat membahayakan bagi kelangsungan alam kita kedepan. Namun bagaimanapun kita tidak boleh berdiam diri, dan gerakan deforestasi yang gencar dilakukan belakangan ini harus dilawan dan dihentikan sejak dini, karena jika kita terlambat mengambil tindakan, maka penyesalan di kemudian hari sama sekali tidak berguna dan tidak bisa mengubah keadaan. Setidaknya ada tiga hal yang perlu kita lakukan:
Pertama, mengambil langkah-langkah hukum yang perlu untuk melawan dan mencegah maraknya deforestasi. Karena bagaimanapun, penebangan hutan yang dilakukan dengan tanpa ada reboisasi adalah melanggar hukum, apalagi lahan hutan itu memang sengaja dijadikan perkebunan. Tentu, tidak semua orang bisa melakukan langkah pertama ini. Karena itu, pihak-pihak yang berkompeten dalam hal ini, seperti LSM, Bupati, Perhutani, harus segera ambil bagian.
Kedua, adalah usaha menggalakkan penghijauan yang dilakukan secara bersama-sama oleh sebanyak mungkin orang. Jika kita bisa melibatkan satu juga orang untuk menanam satu pohon saja, artinya kita bisa menanam satu juta pohon. Maka jika kampanye menanam pohon ini bisa disosialisasikan dengan baik, sehingga satu orang bisa menanam sepuluh pohon, misalnya, tentu ini akan memberikan dampak yang sangat positif bagi Indonesia secara khusus dan dunia secara umum.
Ketiga, adalah penanganan banjir yang baik, efektif dan efisien. Barangkali dalam hal ini kita perlu belajar dari Jakarta, yang dulu identik dengan banjir, namun kini banjir jadi cepat surut dan tidak ekstrem seperti dulu. Hal itu tak lain karena penanganan yang baik, efektif dan efisien.


