BUKAN SIAPA-SIAPA, TAPI SIAP JADI PENERANG UMAT
Di sebuah sudut desa Proppo, Pamekasan, tumbuh seorang anak bernama Rofiqi, lahir pada 08 September dari pasangan Sanuti. Lahir dari keluarga sederhana yang menggantungkan hidup dari berdagang, tak menyurutkan semangatnya untuk menuntut ilmu agama.
Sejak duduk di kelas 2 Ibtidaiyah tahun 1437 H, Rofiqi mendapat beasiswa pendidikan dari LAZ Sidogiri. Kini, di tahun 1447 H, genap 10 tahun sudah beasiswa itu menjadi penopang semangatnya. Baginya, beasiswa ini bukan sekadar bantuan, tapi tali kasih dari Allah lewat para dermawan, yang membuatnya tetap bisa belajar dan tinggal di pondok tanpa membebani kedua orang tua.
Kehidupan di Pondok Pesantren Sidogiri menjadi ladang berharga bagi Rofiqi. Salah satu pengalaman yang paling ia syukuri adalah kesempatan mengaji langsung kepada Pengasuh PPS, K.H. A. Fuad Noerhasan. Momen itu sangat membekas dalam hatinya. “Beliau sosok yang penuh kasih dan sangat teliti. Saya takut sekali keliru saat mengaji di hadapan beliau, tapi justru dari situlah saya banyak belajar,” ungkap Rofiqi.
Tak hanya belajar, prestasi pun ia ukir. Rofiqi telah menyelesaikan hafalan Juz 30 dan mengikuti wisuda tahfidz, sebuah pencapaian yang tak lepas dari ketekunan dan keberkahan lingkungan pondok.
Cita-citanya sederhana tapi mulia: ingin membimbing masyarakat dengan ilmu agama, agar manfaat dari apa yang ia pelajari tak berhenti pada dirinya. Ia ingin menjadi bagian dari mata rantai perjuangan ulama yang mengabdi di tengah umat.
Yang membuat hatinya lebih bersyukur, masuk ke Sidogiri adalah keinginan pribadinya sendiri. Ia bahagia karena disana ia menemukan bukan hanya ilmu, tapi juga sahabat-sahabat seperjuangan dan lingkungan yang mendidik jiwa.
Beasiswa dari LAZ Sidogiri telah membuka jalan hidupnya, dan kini ia melangkah penuh harap bahwa kelak, ia pun bisa menjadi pelita bagi masyarakat, seperti cahaya yang kini ia nikmati dari para muhsinin yang tak ia kenal namanya, tapi sangat besar jasanya.


