BAHAYA AMBISI JABATAN DAN KEKUASAAN
وقال عليه الصلاة والسلام في الأمارة : أَوَّلُهَا مَلامَةٌ، وَثَانِيهَا نَدَامَةٌ، وثَالِثُهَا عَذَابٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلا مَنْ عَدَلَ وَكَيْفَ يَعْدِلُ مَعَ أَقْرِبِيهِ؟ الحديث .قال عليه الصلاة والسلام : من قضى بالجهل فهو في النار، ومن قضى بالجور فهو في النار، ومن قضى بالعدل فحري أن ينجو كفافا. الحديث.
Rasulullah saw bersabda mengenai Jabatan dan kekuasaan, “Kekuasaan itu awalnya adalah celaan, kemudian keduanya adalah penyesalan dan kemudian ketiganya adalah azab di hari kiamat, kecuali orang yang adil, dan betapa sulitnya ia berlaku adil tatkala berkaitan dengan orang terdekatnya.”
Rasulullah saw juga bersabda, “Siapa yang menghakimi dengan kebodohan, maka dia di neraka. Dan siapa yang menghakimi dengan kecurangan, maka dia di neraka. Dan siapa yang menghakimi dengan adil, maka dia akan selamat. (al-Hadis)
Sayyid al-Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad mengingatkan kita agar berhati-hati agar tidak terjerembab dalam perebutan kekuasaan dan ambisi jabatan. Dalam perebutan jabatan dan kekuasaan itu terdapat kekhawatiran yang sangat di dunia, lebih-lebih di akhirat. Maka beliau sangat menganjurkan kepada orang-orang beriman yang menjaga keselamatan diri dan agamanya, agar menjauhi perebutan jabatan dan kekuasaan.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan berambisi mengejar kekuasaan, padahal ia akan menjadi penyesalan di hari kiamat, ia hanya kesenangan di dunia dan penderitaan di akhirat.” (HR. Al-Bukhari)
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah mati pada hari matinya seorang hamba yang Allah berikan kekuasaan kepadanya untuk mengurus rakyat sedang ia dalam keadaan berbuat curang kepada rakyatnya, kecuali Allah haramkan surga atasnya.” [HR. Muslim]
Kecurangan dalam hadits ini mencakup kecurangan dalam mengurus masalah-masalah dunia kaum muslimin, maupun kelemahan dalam mendidik dan menjaga agama mereka, seperti tidak mengajarkan aqidah yang benar dan ibadah yang sesuai petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, serta tidak pula melindungi mereka dari ajaran-ajaran yang menyimpang.
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Ini adalah pondasi yang agung dalam menjauhi kepemimpinan, terutama orang yang memiliki kelemahan, yaitu orang yang berkecimpung di dalamnya tanpa memiliki keahlian dan tidak berlaku adil, sesungguhnya ia akan menyesal atas apa yang telah ia sia-siakan tatkala ia telah dibalas dengan kehinaan di hari kiamat. Adapun orang yang ahli dan adil dalam kepemimpinan maka pahalanya besar sebagaimana dijelaskan dalam banyak dalil. Akan tetapi, turut serta di dalam kekuasaan sangat berbahaya, oleh karena itu ulama-ulama besar berpaling darinya.
Seperti contoh al-Imam Syafi’i menolak menjadi pejabat untuk pengadilan wilayah Timur dan Barat ketika Khalifah al-Makmun memintanya, dan Imam Abu Hanifah juga menolak ketika diminta oleh Khalifah Al-Manshur, sehingga al-Manshur memenjarakan dan memukul beliau. Wal-hasil menolak dan menjauhi jabatan dan kekuasaan itu telah banyak diteladankan oleh para ulama dan lebih menyelamatkan kita di dunia dan akhirat.
~Sumber: Pengajian An-Nashâih ad-Dîniyyah wal-Washâyâ al-Imâniyyah karya al-Imam al-Arif Billah Habib
Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Haddad al-Hadrami asy-Syafii.
*MM


