PROBLEMATIKA PERAN WANITA DALAM KELUARGA DAN MASYARAKAT
Mengkaji peran para ibu yang urgen dalam mendidik anak-anak mereka sebagaimana dikisahkan al-Qur’an seperti contoh Ummina Hawa, Sayidati Maryam, Ibu Musa, ratu Bilqis, dan Sayidati Asiyah—para tersebut memberikan gambaran yang luas mengenai pendidikan dan peran wanita dan ibu. Dari mendidikan anak-anak dalam lingkungan keluarga hingga peran aktif mereka dalam mengubah tatanan masyarakat. Ikut serta membentuk sejarah dan peradaban manusia ke arah yang lebih bertata nilai, berketika dan beragama sesuai petunjuk Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ.
Sudah semestinya, para ibu akan menghadapi lika liku kehidupan. Ibunda Hawa bersama Nabi Adam memakan buah terlarang di surga, lalu beliau berdua diturunkan ke bumi.
Setelah keduanya bertaubat, lalu Allah ﷻ mempercayakan anak-anak dan keturunan mereka sebagai khalifah di bumi dengan ilmu pengetahuan yang sebelumnya diberikan Allah kepada Nabi adam. Dan tentunya oleh Nabi Adam ilmu itu diajarkan kepada keluarga dan anak-anaknya. Disini menggambarkan karakter seoarang ayah dan ibu yang berilmu pengetahuan sebagai bekal mendidik anak-anak.
Demikian pula Sayidati Maryam selain sangat mencintai ilmu dan gigih belajar di Bait al-Maqds, juga sangat tabah menghadapi hinaan, cacian, dan tuduhan masyarakat yang keji atas kehamilannya. Walau hampir putus asa, Sayidati Maryam bermunajat pada Allah sehingga Allah ﷻ mengabulkan doa-doanya dengan kelahiran Nabi Isa AS.
Ratu Bilqis digambarkan al-Qur’an sebagai pemimpin yang mampu memberikan kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya, sehingga membuat Nabi Sulaiman tertarik padanya. Dalam pertemuannya dengan Nabi Sulaiman, Ratu Bilqis mengambil keputusan tepat untuk masuk Islam yang diikuti seluruh rakyatnya yang berarti menyelamatkan keluarga dan rakyatnya dari ketersesatan.
Keputusan Raja Fir’aun yang akan membunuh semua bayi laki-laki yang lahir, menjadikan ibu Nabi Musa mengupayakan berbagai ikhtiar untuk menyelamatkan putranya yang masih bayi. Setelah memperoleh ilham dari Allah ﷻ, bayi Musa dia hanyutkan ke Sungai Nil. Hingga kisah selanjutnya, ibu Musa bisa mendampingi bayi Musa dengan menyusuinya di kerajaan dengan mendapatkan upah yang tidak sedikit padahal yang bayi yang disusuinya adalah putranya sendiri.
Kisah Asiyah (istri Fir’aun) mendapatkan firasat akan keagungan bayi Musa yang dia temukan di Sungai Nil. Firasatnya mengatakan bayi itu nantinya dapat menyelamatkan masa depan peradaban manusia. Asiyah aktif dalam memberikan berbagai argumentasi untuk meyakinkan Fir’aun agar mau menerima bayi Musa di kerajaan. Bahkan mengadopsinya sebagai anak mereka berdua. Karena iman Asiyah yang kuat meskipun dalam tekanan dan siksaan Fir’aun itulah, maka Allah ﷻ menjanjikan bangunan surga untuknya.
Itulah gambaran secara luas mengenai peran para wanita sebagai seorang ibu di dalam keluarga yang tidak menghalangi untuk berperan nyata dalam mengubah dan membangun tatanan nilai masyarakatnya. Tentu karakter yang harus dipenuhi adalah Cerdas, berilmu pengetahuan, sabar dan tabah menghadapi cobaan, serta cerdas dan pandai berargumentasi dalam mensukseskan program dan visi misinya ke depan. Tak heran kalau peran mulia mereka tercatat indah oleh tinta-tinta sejarah.
*Jeki/Sidogiri Peduli


