ETIKA ORANG TUA SETELAH LAHIRNYA BUAH HATI
Imam Hujjatul Islam Muhammad bin Muhammad al-Ghazali melalui Kitab Ihya Ulumiddinnya, menekankan aspek parenting di sela-sela kajiannya mengenai Rub’ul Muhlikat (Bagian yang membahas hal-hal yang merusak amal).
Al-Ghazali yang juga Pakar ilmu jiwa ini menuliskan juz III, halaman 77, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439-1440 H],
اعلم أن الطريق في رياضة الصبيان من أهم الأمور وأوكدها والصبيان أمانة عند والديه وقلبه الطاهر جوهرة نفيسة ساذجة خالية عن كل نقش وصورة وهو قابل لكل ما نقش ومائل إلى كل ما يمال به إليه
“Ketahuilah cara mendidik anak termasuk masalah yang paling penting dan paling urgen. Anak merupakan amanah bagi kedua orang tuanya. Hati mereka suci, mutiara berharga, bersih dari segala ‘ukiran’ dan rupa. Hati anak-anak menerima setiap ‘ukiran’ dan cenderung pada ajaran yang diberikan kepada mereka,”
Imam al-Ghazali juga mengutip al-Qur’an Surat At-Tahrim ayat 6 yang menyiratkan tanggung jawab besar orang tua dalam mengasuh, mendidik, dan membentuk katrakter anak ke depan sesuai tuntunan ajaran Islam.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka,” (Surat At-Tahrim ayat 6).
Dari sini, pada dasarnya setiap anak terlahir dalam keadaan fithrah. Jiwa anak-anak masih suci dan polos seperti kertas kosong yang belum tertulis atau tergambar apapun. Orang tua dan lingkungannya yang selanjutnya mengisi lembaran kosong itu.
Semenjak dilahirkan di dunia, Jiwa anak-anak siap ditulis dan digambari apapun oleh orang tua dan lingkungannya yang selanjutnya orang tua dan lingkungan akan membentuk jiwa dan karakter anak. Oleh karena itu, Rasulullah saw mensunnahkan beberapa hal menyambut bayi yang baru lahir, diantaranya;
Pertama, mengadzani anak pada telinga sebelah kanan dan megiqamahi pada telinga yang kiri. Hal ini agar anak yang baru lahir itu pertama yang didengar nama Allah dan perintah untuk menyembahNya. Inilah proses pertama pendidikan, yaitu mengenalkan dan memperdengarkan inti ajaran Islam.
Kedua, memberi nama yang baik.
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik.”
Dengan memberi nama yang baik sesuai syariat yang dicontohkan oleh Rasulullah, itu berarti memulai harapan kelak anak itu menjadi anak yang shalih dan mendapat ridha Allah SWT dan Rasulullah saw.
Ketiga, Mentahnik (menempelkan kurma di langit-langit mulut bayi) dan mendoakan kebaikan untuk sang bayi. Sebagaimana dalam hadits Nabi.
Dari Abu Musa, ia bercerita,“ Anak laki-lakiku lahir, kemudian aku membawanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau lalu memberinya nama Ibrahim, beliau menyuapinya dengan kunyahan kurma dan mendoakannya dengan keberkahan, setelah itu menyerahkannya kepadaku.” Ibrahim adalah anak tertua Abu Musa.” (HR. Bukhari Muslim).
Berkah tahnik ini, Abi Musa al-Asy’ari melahirkan keturunan-keturunan yang shalih.
Keempat, Aqiqah dan memotong rambutnya. Nabi mengajarkan untuk anak laki-laki dengan memotong dua ekor kambing dan untuk anak perempuan satu ekor kambing.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“ Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuhnya, dicukur rambutnya dan diberi nama.” (HR. Abu Daud).
Kelima, khitan.
Dengan dikhitan dapat membersihkan kotoran-kotoran yang tertinggal di sela-sela kemaluan sehingga tidak menimbulkan penyakit. Khitan juga disunnahkan bagi mualaf yang sebelumnya belum berkhitan sebagai bentuk mensucikan diri.
Tentunya semua amalan sunnah pasca lahirnya anak ini, bukan hanya mengandung hikmah kesehatan dhahir, tapi juga kesehatan batin yang bermanfaat untuk kebaikan si anak dan juga orang tuanya.
(Jeki/Peduli)


