PERAN STRATEGIS DALAM MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN ANAK YATIM
Di tengah dinamika kehidupan modern, tantangan yang dihadapi anak-anak yatim dalam mendapatkan pendidikan dan perhatian yang layak masih cukup besar. Untuk menggali lebih dalam mengenai kondisi anak yatim saat ini, tantangan yang mereka hadapi, serta peran strategis lembaga sosial dan umat Islam dalam memberikan kesejahteraan kepada anak-anak yatim, Majalah PEDULI telah mewawancarai Prof. Dr. Nashiri Abadi, LC., MA., Pengasuh Ponpes Dalailul Khairat, Wakil Ketua STAI Taruna Surabaya dan Ketua Umum Asosiasi Muballigh Alumni Timur Tengah. Berikut transkrip selengkapnya.
Bagaimana pandangan Anda tentang kondisi anak-anak yatim saat ini, khususnya dari segi kesejahteraan dan perhatian sosial?
Kondisi anak yatim saat ini sangat berbeda dibandingkan zaman dahulu, terutama pada masa Rasulullah ﷺ. Pada masa itu, anak-anak yatim seringkali terlantar dan mengalami kesulitan ekonomi yang berat, sehingga Rasulullah sangat memperhatikan mereka dengan penuh kasih sayang.
Namun kini, banyak anak yatim yang berada dalam kondisi ekonomi yang lebih baik. Kekayaan ini bisa berasal dari warisan almarhum ayah mereka maupun sumber yang lain. Selain itu, saat ini juga telah banyak bermunculan lembaga sosial yang khusus menangani kesejahteraan anak yatim dan dhuafa, seperti panti asuhan, rumah yatim, dan pesantren yatim, yang semua bertujuan memberikan perlindungan dan perhatian bagi mereka.
Apa bentuk kepedulian yang menurut Anda paling dibutuhkan oleh anak-anak yatim di masa sekarang?
Menurut saya, bentuk kepedulian yang paling dibutuhkan anak-anak yatim saat ini adalah perhatian terhadap pendidikan mereka. Banyak donatur yang fokus pada kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan, namun masih jarang yang memperhatikan biaya pendidikan anak yatim. Padahal, pendidikan sangat penting untuk mempersiapkan masa depan mereka yang lebih cerah dan mandiri.
Menurut Anda, sejauh mana kontribusi dan peran Lembaga Amil Zakat (LAZ) dalam upaya memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak yatim?
Dari pengamatan saya, LAZ, BAZ, dan lembaga sejenis masih kurang memberikan perhatian yang optimal terhadap anak-anak yatim. Salah satu alasannya adalah sebagian pengelola lembaga tersebut masih menganggap anak yatim tidak termasuk dalam delapan asnaf yang berhak menerima zakat. Selain itu, mereka kurang jeli dalam mengidentifikasi kondisi anak yatim di Indonesia.
Padahal, tidak semua anak yatim berasal dari keluarga kaya. Banyak di antaranya yang termasuk dalam kategori ekonomi lemah dan miskin. Bahkan, dalam beberapa kasus, penyaluran dana zakat saja belum merata, terutama kepada kelompok fakir miskin
Pesan apa yang ingin Anda sampaikan kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap kesejahteraan anak-anak yatim?
Pesan pertama saya untuk pengelola LAZ, BAZ, dan lembaga sosial lainnya adalah agar menjadi pengelola yang bijak dan adil dalam menyalurkan dana zakat, infaq, dan sedekah. Perhatikan terlebih dahulu kaum dhuafa di sekitar sebelum menyalurkan zakat ke tempat-tempat yang jauh dari lokasi lembaga tersebut.
Pesan kedua untuk seluruh umat Muslim, hendaklah kita menjadi pribadi yang peduli terhadap anak yatim, karena mereka memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah dan Rasul-Nya. Dalam sebuah hadits dari Sahl bin Sa’ad, Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku dan orang yang menanggung anak yatim di surga seperti ini,” beliau ﷺ mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau yang direnggangkan sedikit (HR. Muslim: 2983).
Hadis agung ini menunjukkan betapa besar keutamaan dan pahala bagi orang yang menyantuni anak yatim. Imam Bukhari pun mencantumkan hadis ini dalam bab keutamaan mengasuh anak yatim.


