Cinta Suci dalam Rumah Tangga?


    Dibaca 148 kali kebahagiaan impian cinta harapan kebaikan

Pertanyaan
Banyak kita jumpai kehidupan rumah tangga para artis yang kita lihat di televisi, atau yang kadang kita lihat sendiri di lingkungan sekeliling kita, yang pada awalnya suatu pasangan lelaki dan perempuan terikat oleh cinta suci, saling mengasihi dan menyayangi, namun setelah melangsungkan kehidupan mereka ke jenjang pernikahan, tak lama kemudian rumah tangga mereka retak, berantakan, dan terjadilah perceraian bahkan permusuhan.

Kenapa pertemuan yang dilandasi cinta suci seperti itu masih bisa retak, dan apa yang harus dilakukan agar rumah tangga kita tetap utuh dan kokoh?

Amin, Bangkalan, 08768733xxxx

Jawaban
Cinta yang suci itu adalah cinta yang didasarkan pada landasan karena Allah . Jadi jika ada perasaan cinta yang diungkapkan atau dijalani dengan tidak mengikuti aturan-aturan dari Allah , tentu saja itu bukan cinta yang suci dan bukan cinta sejati. Cinta yang dijalani dengan pacaran, atau sudah memiliki pasangan yang sah namun masih selingkuh dengan alasan cinta, sesungguhnya adalah penyimpangan cinta yang harus segera dihentikan.

Karena itu, hal pertama dan paling utama yang mesti dipahami oleh setiap suami/istri dalam rumah tangga adalah, bahwa cinta yang mereka bangun dalam sebuah keluarga itu didasarkan pada prinsip “karena Allah”. Seorang suami mencintai istinya karena Allah, begitupun istri mencintai suaminya karena Allah, sebab memang keduanya disatukan dengan ikatan suci berdasarkan syariat Allah .

Nah, jika cinta telah terbangun di atas landasan yang kokoh dan suci seperti ini, maka pada perjalanan selanjutnya, masing-masing dari suami dan istri tentu akan berusaha memenuhi kewajibannya untuk mencari pahala dan ridha Allah  semata, sehingga meskipun seandainya perbuatan baiknya itu tak berbalas, cinta ini akan tetap kokoh sebab sejak awal ia hanya mencari balasan dari Allah , bukan balasan dari suami atau istri.

Beda halnya jika cinta dalam keluarga tidak dibangun di atas landasan “karena Allah”. Cinta yang seperti ini sangat rapuh dan mudah runtuh. Dengan sedikit saja kekurangan atau ketidak cocokan dari salah satu pihak, itu sudah lebih dari cukup untuk mengikis sedikit demi sedikit perasaan cintanya. Dalam keadaan yang seperti ini, biasanya reaksi yang muncul bukannya berusaha membenahi kekurangan itu dengan sabar dan penuh kasih sayang, akan tetapi yang dikedepankan malah emosi, perasaan muak dan benci.

Komentar

Tulisan Terbaru

Peduli Lingkungan di Banyuwangi

Moh. Ihsan Firmansyah, anak yatim…

Cinta Suci dalam Rumah Tangga?

Santunan anak yatim dan dhuafa dari karyawan PT. Pegadaian Cab. Bangkalan.

Artikel Laz

Artikel